Kamis, 24 November 2011

ERGONOMI


HAZARD ERGONOMI
http://ww9.yuwie.com/fckeditor/editor/images/smiley/msn/wink_smile.gifDalam dunia persaingan terbuka pada era globalisasi ini , perusahaan menerapkan standar acuan terhadap berbagai hal terhadap industri seperti kualitas, manajemen kualitas, manajemen lingkungan, serta keselamatan dan kesehatan kerja. Apabila saat ini industri pengekspor telah dituntut untuk menerapkan Manajemen Kualitas (ISO-9000, QS-9000) serta Manajemen Lingkungan (ISO-14000) maka bukan tidak mungkin tuntutan terhadap penerapan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja juga menjadi tuntutan pasar internasional.
Untuk menjawab tantangan tersebut Perusahaan menerapkan kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja berdasarkan pada peraturan dari pemerintah yang diwakili oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang telah menetapkan sebuah peraturan perundangan mengenai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER.05/MEN/1996.
Hal ini bertujuan untuk menciptakan sistem K3 di tempat kerja yang melibatkan segala pihak sehingga dapat mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan produktif.

Alasan harus menerapkan SMK 3 yaitu karena SMK3 bukan hanya tuntutan pemerintah, masyarakat, pasar, atau dunia internasional saja tetapi juga tanggung jawab pengusaha untuk menyediakan tempat kerja yang aman bagi pekerjanya. Selain itu penerapan SMK3 juga mempunyai banyak manfaat bagi industri kita antara lain :
  1. Manfaat Langsung
  2. Mengurangi jam kerja yang hilang akibat kecelakaan kerja
  3. Menghindari kerugian material dan jiwa akibat kecelakaan kerja
  4. Menciptakan tempat kerja yang efisien dan produktif karena tenaga kerja merasa aman dalam bekerja
  5. Manfaat Tidak Langsung :
  6. Meningkatkan image market terhadap perusahaan
  7. Menciptakan hubungan yang harmonis bagi karyawan dan perusahaan.
Perawatan terhadap mesin dan peralatan semakin baik, sehingga membuat umur alat semakin lama.
Dengan banyaknya keuntungan dalam penerapan SMK3 serta standarisasi SMK3 di Indonesia yang cukup representatif, inilah saatnya bagi Industri Indonesia untuk melaksanakan SMK3 sesuai PER.05/MEN/1996 baik industri skala kecil, menengah, hingga besar. Sehingga bersama-sama menjadi industri yang kompetitif, aman, dan efisien dalam menghadapi pasar terbuka.
A. Laboratorium 
Laboratorium adalah sarana yang dipergunakan untuk melakukan pengukuran, penetapan, dan pengujian terhadap bahan yang digunakan untuk penentuan formula obat yang akan dibuat. Untuk dapat menerapkan K3 yang baik, fasilitas laboratorium harus memenuhi beberapa persyaratan berikut ini.
Harus mempunyai sistem ventilasi yang memadai agar sirkulasi udara berjalan lancar.
Harus mempunyai alat pemadam kebakaran terhadap bahan kimia yang berbahaya yang dipakai.
Harus menyediakan alat pembakar gas yang terbuka untuk menghindari bahaya kebakaran.
Meja yang digunakan harus diberi bibir untuk menahan tumpahan larutan yang mudah terbakar, korosif dan melindungi tempat yang aman dari bahaya kebakaran
Menyediakan dua buah jalan keluar untuk keluar dari kebakaran dan terpisah sejauh mungkin.
Tempat penyimpanan di laboratorium di desain untuk mengurangi sekecil mungkin risiko oleh bahan-bahan berbahaya dalam jumlah besar.
Harus tersedianya alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).

B. Job Safety Analysis (JSA)
Kecelakaan kerja (accident) adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan, tidak diduga, tidak disengaja dan terjadi dalam hubungan kerja yang berdampak pada kerugian berupa cidera pada pekerja, kerusakan barang-barang produksi dan kehilangan waktu selama proses produksi. Kecelakaan kerja terjadi oleh karena kontak dengan substansi atau sumber energi melebihi Nilai Ambang Batas (NAB).

Secara umum kecelakaan kerja dibagi menjadi :
Kecelakaan industri (industrial accident), yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja karena adanya sumber bahaya atau bahaya kerja.
Kecelakaan dalam perjalanan (community accident), yaitu kecelakaan yang terjadi di luar tempat kerja yang berkaitan dengan hubungan kerja.

Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam 2 kelompok :
Kondisi berbahaya (unsafe condition), yaitu yang tidak aman dari:
Mesin, peralatan, bahan dan lain-lain
Lingkungan kerja
Proses kerja
Sifat pekerjaan
Cara kerja
Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari manusia yang dapat terjadi antara lain karena:
Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana
Cacat tubuh (bodily defect)
Keletihan dan kelemahan daya tahan tubuh.
Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik


Adapun bahaya yang akan dihadapi oleh pekerja dalam laboratorium jika kecelakaan terjadi antara lain :
Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah terbakar atau meledak.
Bahan beracun, corrosive.
Bahaya radiasi
Luka bakar
Syok akibat aliran listrik
Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam
Bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit.


Adapun beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di laboratorium :
Terpeleset , biasanya karena lantai licin yang dapat berakibat luka ringan (memar), luka berat (memar otak)


Pencegahan :
Dengan memakai sepatu anti slip, jangan memakai sepatu dengan hak tinggi, atau tali sepatu longgar. Kemudian hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah dan licin) atau tidak rata konstruksinya dan juga memperhatikan pemeliharaan lantai dan tangga.
Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup berat, terutama bila mengabaikan kaidah ergonomi yang dapat berakibat cedera pada punggung.

Pencegahan :
Beban jangan terlalu berat, jangan berdiri terlalu jauh dari beban, jangan mengangkat beban dengan posisi membungkuk tapi pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok, dan Pakaian penggotong jangan terlalu ketat sehingga pergerakan terhambat.
Risiko terjadi kebakaran (sumber : bahan kimia, kompor, listrik), bahan desinfektan yang mungkin mudah menyala (flammable) dan beracun. Kebakaran terjadi bila terdapat 3 unsur bersama-sama yaitu: oksigen, bahan yang mudah terbakar dan panas. Yang dapat mengakibatkan :Timbulnya kebakaran dengan akibat luka bakar dari ringan sampai berat bahkan kematian dan juga timbulnya keracunan akibat kurang hati-hati.
Pencegahan
Konstruksi bangunan harus tahan api, sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan yang mudah terbakar, pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran yaitu adanya sistem tanda kebakaran, yang manual yang memungkinkan seseorang menyatakan tanda bahaya dengan segera ataupun otomatis yang menemukan kebakaran dan memberikan tanda secara otomatis, adanya jalan untuk menyelamatkan diri, perlengkapan dan penanggulangan kebakaran, penyimpanan dan penanganan zat kimia yang benar dan aman.
Penyakit Akibat Kerja & Penyakit Akibat Hubungan Kerja di Laboratorium
Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab, harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Faktor Lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja.
Penyakit akibat kerja di laboratorium kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti antiseptic pada kulit, zat kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati; faktor ergonomi (cara duduk salah); faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit, tegangan tinggi, radiasi dan lain lain.
Faktor Kimia
Petugas di laboratorium kesehatan yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan obat-obatan seperti antibiotic, demikian pula dengan solvent yang banyak digunakan dalam komponen antiseptic, desinfektan dikenal sebagai zat yang paling karsinogen. Semua bahan ini cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negatif terhadap kesehatan pekerja. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis (iritasi kulit) kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak, dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). Bahan toksik (trichloroethane, tetrachloromethane) jika tertelan, terhirup atau terserap melalui kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik, bahkan kematian. Bahan corrosive (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible pada daerah yang terpapar.

Pencegahan :
“Material Safety Data Sheet” (MSDS) dari seluruh bahan kimia yang ada untuk diketahui oleh seluruh petugas laboratorium.
Menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah tertelannya bahan kimia dan terhirupnya aerosol.
Menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata, sarung tangan, jas laboratorium) dengan benar.
Menghindari penggunaan lensa kontak, karena dapat melekat antara mata dan lensa.
Menggunakan alat pelindung pernapasan dengan benar.
Faktor Ergonomi
Ergonomi berfungsi untuk menyerasikan alat, cara, proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya.
Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif, secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal sebagai “to fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job”. Sebagian besar pekerja di dalam laboratorium bekerja dalam posisi yang kurang ergonomi, misalnya tenaga operator peralatan, hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Posisi kerja yang salah dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan fisik dan psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja (low back pain).


Menurut M. Mikhew (ICHOIS 1997), gambaran umum yang menjadi ciri-ciri umum industri dan yang sering terjadi antara lain :
Timbulnya risiko bahaya pekerjaan yang tinggi.
Keterbatasan sumber daya dalam mengubah lingkungan kerja dan menentukan pelayanan kesehatan kerja yang kuat.
Rendahnya kesadaran terhadap faktor-faktor fisik kesehatan kerja.
Kondisi pekerjaan yang tidak ergonomi, kerja fisik yang berat dan jam kerja yang panjang.
Pembagian kerja di struktur yang beraneka ragam dan rendahnya pengawasan manajemen serta pencegahan bahaya-bahaya pekerjaan.
Masalah perlindungan lingkungan tidak terpecahkan dengan baik.
Kurangnya pemeliharaan kesehatan, jaminan keamanan, sosial (asuransi kesehatan) dan fasilitas kesejahteraan.
Pelayanan kesehatan kerja yang diberikan melalui penerapan ergonomi, diharapkan dapat meningkatkan mutu kehidupan kerja (Quality of Working Life), dengan demikian produktifitas kerja dapat ditingkatkan dan penyakit akibat kerja dapat diturunkan, proses kerja dan lingkungan kerja yang aman. Interaksi ini akan berjalan dengan baik bila ketiga komponen tersebut dipersiapkan dengan baik dan saling menunjang. Misalnya menyesuaikan ukuran peralatan kerja dengan postur tubuh pekerja dan menilai kelancaran gerakan tubuh pekerja.
Dalam penerapan ergonomi akan dipelajari cara-cara penyesuaian pekerjaan, alat kerja dan lingkungan kerja dengan manusia, dengan memperhatikan kemampuan dan keterbatasan manusia itu sehingga tercapai suatu keserasian antara manusia dan pekerjaannya yang akan meningkatkan kenyamanan kerja dan produktifitas kerja.


Adapun beberapa posisi yang penting untuk penerapan ergonomi di tempat kerja adalah sebagai berikut 
Posisi berdiri
Ukuran tubuh yang penting adalah tinggi badan berdiri, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul, panjang lengan.
Posisi duduk
Ukuran tubuh yang penting adalah tinggi duduk, panjang lengan atas, panjang lengan bawah dan tangan, jarak lekuk lutut dan garis punggung, serta jarak lekuk lutut dan telapak kaki.
Di samping itu, pengenalan permasalahan ergonomi di tempat kerja perlu mempertimbangkan beberapa aspek (bidang kajian ergonomi), yaitu :
a. Anatomi dan gerak terdapat 2 (dua) hal penting yang berhubungan, yakni :
1. Antropometris dipengaruhi oleh :
a. Jenis kelamin
b. Perbedaan bangsa
c. Sifat/hal-hal yang diturunkan
d. Kebiasaan yang berbeda
2. Biomekanik kerja
Misalnya dalam hal penerapan ilmu gaya antara lain sikap duduk/berdiri yang tidak/kurang melelahkan karena posisi yang benar dan ukuran peralatan yang telah diperhitungkan.
b. Fisiologi dibagi menjadi :
1. Fisiologi lingkungan kerja yang berhubungan dengan kenyamanan dan pengamanan terhadap potential hazards, ruang gerak yang memadai.
2. dan fisiologi kerja
c. Psikologi
Perasaan aman, nyaman dan sejahtera dalam bekerja yang didapatkan oleh pekerja. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan kerja (cahaya, ventilasi, posisi kerja) yang tidak menimbulkan stres pada pekerja.
d. Rekayasa dan teknologi merupakan kiat-kiat untuk mendesain peralatan yang sesuai dengan ukuran tubuh dan batasan-batasan pergerakan manusia. Dan juga dapat memberi rasa aman terhadap pekerjaannya.
e. Penginderaan merupakan kemampuan kelima indera manusia menangkap isyarat-isyarat yang datang dari luar.
Untuk menerapkan ergonomi maka ada beberapa persyaratan yang harus dilaksanakan antara lain :
a. Posisi duduk/bekerja dengan duduk, ada beberapa persyaratan :
1. Terasa nyaman selama melaksanakan pekerjaannya.
2. Tidak menimbulkan gangguan psikologis.
3. Dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan memuaskan.
b. Posisi bekerja dengan berdiri :
Berdiri dengan posisi yang benar, dengan tulang punggung yang lurus dan bobot badan terbagi rata pada kedua tungkai.
c. Proses bekerja
Ukuran yang benar akan memudahkan seseorang dalam melakukan pekerjaannya, tetapi akibat postur tubuh yang berbeda, perlu pemecahan masalah terutama di negara-negara berkembang yang menggunakan peralatan impor sehingga perlu disesuaikan kembali, misalnya tempat kerja yang harus dilakukan dengan berdiri sebaiknya ditambahi bangku panjang setinggi 10-25 cm agar orang dapat bekerja sesuai dengan tinggi meja dan tidak melelahkan.
d. Penampilan tempat kerja
Mungkin akan menjadi baik dan lengkap bila disertai petunjuk-petunjuk berupa gambar-gambar yang mudah diingat, mudah dilihat setiap saat.
e. Mengangkat beban
Terutama di negara berkembang mengangkat beban adalah pekerjaan yang lazim dan sering dilakukan tanpa dipikirkan efek negatifnya, antara lain : kerusakan tulang punggung, kelainan bentuk otot karena pekerjaan tertentu, Penanggulangan permasalahan ergonomi di setiap jenis pekerjaan dapat dilakukan setelah mengetahui terlebih dahulu bagaimana proses kerja dan posisi kerjanya
Untuk menanggulangi Permasalahan Ergonomi maka dilakukan beberapa sistem pemecahan masalah antara lain mengidentifikasi masalah yang sedang dihadapi dengan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi kemudian menentukan prioritas masalah; masalah yang paling mencolok harus ditangani lebih dahulu. Setelah analisis dikerjakan, maka satu atau dua alternatif intervensi harus diusulkan. Pada pengenalan/rekognisi ada 3 hal yang harus diperhatikan, yang saling berinteraksi dalam penerapan ergonomi dengan fokus utama pada sumber daya manusia (human centered design) :
a. Kesehatan mental dan fisik harus diperhatikan untuk diperbaiki sehingga didapatkan tenaga kerja yang sehat fisik, rohani dan sosial yang memungkinkan mereka hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomi.
b. Kemampuan jasmani dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan antropometri, lingkup gerak sendi dan kekuatan otot.
c. Lingkungan tempat kerja harus memberikan ruang gerak secukupnya bagi tubuh dan anggota badan sehingga dapat bergerak secara leluasa dan efisien sehingga dapat menimbulkan rasa aman dan tidak menimbulkan stres lingkungan.
d. Pembebanan kerja fisik selama bekerja, kebutuhan peredaran darah dapat meningkat sepuluh sampai dua puluh kali. Meningkatnya peredaran darah pada otot-otot yang bekerja, memaksa jantung untuk memompa darah lebih banyak.
Kerja otot dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu :
1. Kerja otot dinamik, ditandai dengan kontraksi bergantian yang berirama dan ekstensi, ketegangan dan istirahat.
2. Kerja otot statik, ditandai oleh kontraksi otot yang lama yang biasanya sesuai dengan sikap tubuh. Tidak dianjurkan untuk meneruskan kerja otot statik dalam jangka lama karena akan timbul rasa nyeri dan memaksa tenaga kerja untuk berhenti.
e. Sikap tubuh dalam bekerja berhubungan dengan tempat duduk, meja kerja dan luas pandangan. Untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapannya diperlukan ukuran-ukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan memungkinkan dilakukannya gerakan-gerakan yang dibutuhkan. Pada posisi berdiri dengan pekerjaan ringan, tinggi optimum area kerja adalah 5-10 cm di bawah siku. Agar tinggi optimum ini dapat diterapkan, maka perlu diukur tinggi siku yaitu jarak vertikal dari lantai ke siku dengan keadaan lengan bawah men-datar dan lengan atas vertikal. Tinggi siku pada laki-laki misalnya 100 cm dan pada wanita misalnya 95 cm, maka tinggi meja kerja bagi laki-laki adalah antara 90-95 cm dan bagi wanita adalah antara 85-90 cm.
7. Faktor Fisik
Faktor fisik di laboratorium yang dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja meliputi:
1. Kebisingan, getaran akibat mesin dapat menyebabkan stress dan ketulian
2. Pencahayaan yang kurang di ruang timbang, laboratorium, dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan kecelakaan kerja.
3. Suhu dan kelembaban yang tinggi di tempat kerja
4. Terimbas kecelakaan/kebakaran akibat lingkungan sekitar.
5. Terkena radiasi khusus untuk radiasi, dengan berkembangnya teknologi pemeriksaan, penggunaannya meningkat sangat tajam dan jika tidak dikontrol dapat membahayakan petugas yang menangani.
Pencegahan :
1. Pengendalian cahaya di ruang laboratorium.
2. Pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup memadai.
3. Menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi
4. Pengaturan jadwal kerja yang sesuai.
5. Pelindung mata untuk sinar laser
6. Filter untuk mikroskop
D. Pengendalian Penyakit Akibat Kerja dan Kecelakaan Kerja Melalui K3
1. Pengendalian Melalui Perundang-undangan (Legislative Control) antara lain :
a. UU No. 14 Tahun 1969 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
b. Petugas kesehatan dan non kesehatan
c. UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
d. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
e. Peraturan Menteri Kesehatan tentang higiene dan sanitasi lingkungan.
f. Peraturan penggunaan bahan-bahan berbahaya
g. Peraturan/persyaratan pembuangan limbah
2. Pengendalian melalui Administrasi / Organisasi (Administrative Control) antara lain:
a. Pengaturan jam kerja, lembur dan shift
b. Menyusun Prosedur Kerja Tetap (Standard Operating Procedure) untuk masing-masing instalasi dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya
c. Melaksanakan prosedur keselamatan kerja (safety procedures) terutama untuk pengoperasian alat-alat yang dapat menimbulkan kecelakaan dan melakukan pengawasan agar prosedur tersebut dilaksanakan
d. Melaksanakan pemeriksaan secara seksama penyebab kecelakaan kerja dan mengupayakan pencegahannya.
3. Pengendalian Secara Teknis (Engineering Control), antara lain:
a. Substitusi dari bahan kimia, alat kerja atau proses kerja
b. Isolasi dari bahan-bahan kimia, alat kerja, penggunaan alat pelindung.
c. Perbaikan sistem ventilasi, dan lain-
4. Pengendalian Melalui Jalur kesehatan (Medical Control) dengan melakukan beberapa pemeriksaan terhadap pekerjanya dengan beberapa langkah yaitu :
§ Pemeriksaan Awal
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan sebelum seseorang calon / pekerja memulai melaksanakan pekerjaannya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status kesehatan calon pekerja dan mengetahui apakah calon pekerja tersebut ditinjau dari segi kesehatannya sesuai dengan pekerjaan yang akan ditugaskan kepadanya yang meliputi pemeriksaan terhadap :
1) Penyakit yang pernah diderita
2) Alrergi
3) Imunisasi yang pernah didapat
4) Pemeriksaan badan
5) Pemeriksaan laboratorium rutin
6) Pemeriksaan tertentu :
a. Pemeriksaan Berkala
Pemeriksaan kesehatan yang dilaksanakan secara berkala dengan jarak waktu berkala yang disesuaikan dengan besarnya resiko kesehatan yang dihadapi. Makin besar resiko kerja, makin kecil jarak waktu antara pemeriksaan berkala. Ruang lingkup pemeriksaan disini meliputi pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus seperti pada pemeriksaan awal dan bila diperlukan ditambah dengan pemeriksaan lainnya, sesuai dengan resiko kesehatan yang dihadapi dalam pekerjaan.
b. Pemeriksaan Khusus
Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada khusus di luar waktu pemeriksaan berkala, yaitu pada keadaan dimana ada atau diduga ada keadaan yang dapat mengganggu kesehatan pekerja. Sebagai unit di sektor kesehatan pengembangan K3 tidak hanya untuk intern laboratorium kesehatan, dalam hal memberikan pelayanan paripurna juga harus merambah dan memberi panutan pada masyarakat pekerja di sekitarnya, utamanya pelayanan promotif dan preventif.
E. Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Kemudian, oleh perusahaan melakukan beberapa tindakan untuk mencegah kecelakaan kerja yang terjadi bagi pekerjanya khususnya di bagian laboratorium yaitu dengan menerapkan Sistem Manajemen Kebijakan dan Keselamatan Kerja yang dimulai dari beberapa tahapan yaitu : Planning (perencanaan),Organizing (organisasi), Actuating (pelaksanaan), Controlling (pengawasan).
1. Planning (Perencanaan)
Berfungsi untuk menentukan kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan khususnya keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium.
2. Organizing (Organisasi)
Berfungsi untuk :
a) Menyusun garis besar pedoman keamanan kerja laboratorium
b) Memberikan bimbingan, penyuluhan, pelatihan pelaksana-an keamanan kerja laboratorium
c) Memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja laboratorium
d) Memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan penerbitan izin laboratorium
e) Mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul dari suatu laboratorium
3. Actuating (Pelaksanaan)
Berfungsi untuk mendorong semangat kerja pekerja, mengerahkan aktivitas pekerja, mengkoordinasikan berbagai aktivitas pekerja menjadi aktivitas yang kompak (sinkron), sehingga semua aktivitas pekerja sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.
4. Controlling (Pengawasan)
Berfungsi untuk mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki.
Untuk dapat menjalankan pengawasan, perlu diperhatikan 2 prinsip pokok, yaitu: adanya rencana dan adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan.
Dalam pengawasan perlu adanya sosialisasi tentang perlunya disiplin, mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja bersama di laboratorium. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus, karena usaha pencegahan bahaya yang bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan diabaikan.
Dalam laboratorium perlu dibentuk pengawasan laboratorium yang tugasnya antara lain :
a) Memantau dan mengarahkan secara berkala praktek-praktek laboratorium yang baik, benar dan aman
b) Memastikan semua petugas laboratorium memahami cara-cara menghindari risiko bahaya dalam laboratorium
c) Melakukan penyelidikan/pengusutan segala peristiwa berbahaya atau kecelakaan.
d) Mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang keamanan kerja laboratorium
e) Melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa berbahaya dan mencegah meluasnya bahaya tersebut.


A. Higiene Industri
Kesehatan lingkungan kerja sering kali dikenal juga dengan istilah Higiene Industri atau Higiene Perusahaan. Tujuan utama dari Higien Perusahan dan Kesehatan Kerja adalah menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Selain itu Kegiatannya bertujuan agar tenaga kerja terlindung dari berbagai macam resiko akibat lingkungan kerja diantaranya melalui pengenalan, evaluasi, pengendalian dan melakukan tindakan perbaikan yang mungkin dapat dilakukan. Melihat risiko bagi tenaga kerja yang mungkin dihadapi di lingkungan kerjanya, maka perlu adanya personil di lingkungan industri yang mengerti tentang hygiene industri dan menerapkannya di lingkungan kerjanya.
Sejarah
Seperti halnya profesi yang lain, menentukan kapan pertama kalinya praktek higiene industri dilakukan sangat sulit untuk ditentukan, bahkan hampir mustahil. Namun, kita bisa mulai menjawabnya dengan mengidentifikasi kapan manusia mulai menyadari adanya bahaya di tempat kerja dan bagaimana cara mengendalikannya.
Pada tahun 370 SM, seorang dokter yang bernama Hippocrates (460-370SM) membuat tulisan tentang penyakit akibat kerja, keracuan timbal pada pekerja pertambangan dan metalurgi. Tulisannya ini merupakan tulisan pertama dalam bidang kedokteran kerja (occupational medicine).
Pada awal abad pertama setelah masehi, Plinius Secundus (Pliny the Elder) menulis bahwa ”sedikit penambang …..menyelimuti mukanya dengan loose bladder (kain penutup yang terbuat dari kandung kemih binatang), yang memungkinkan mereka melihat tanpa menghirup debu-debu yang berbahaya”. Dari tulisannya tersebut kita melihat bahwa pada awal abad pertama setelah masehi, Pliny berhasil mengidentifikasi adanya bahaya debu di tempat kerja dan menuliskan bagaimana sebagian pekerja telah berusaha melakukan kontrol terhadap bahaya tersebut dengan menggunakan alat pelindung diri berupa loose bladder. Pada tahun 1473, Ellenbog mengenali bahaya dari uap logam dan menggambarkan gejala-gejala akibat keracunan uap logam timbal dan merkuri. Ellenbog juga memberikan beberapa saran bagaimana cara mencegah keracunan tersebut.
Pada tahun 1556, Georgius Agricola menerbitkan tulisan De Re Metallica menyatakan bahwa semua aspek di industri pertambangan, peleburan dan penyulingan, tidak ada yang terbebas dari penyakit dan celaka, dan alat yang bisa digunakan untuk mencegah penyakit dan celaka tersebut adalah ventilasi. Dilanjutkan dengan adanya hasil penelitian yang luar biasa dari Paracelsus, pada tahun 1567 tentang penyakit respirasi pada pekerja pertambangan disertai penjelasan tentang keracunan merkuri.
De Morbis Artificium Diatriba (penyakit para pekerja) merupakan tulisanpertama yang dianggap sebagai risalah lengkap dalam bidang penyakit akibat kerja. Tulisan ini adalah hasil karya Bernardino Ramazzini (1633-1714), yang dikenal sebagai Bapak kedokteran kerja (occupational Medicine) dan diterbitkan pada tahun 1713. Melalui observasinya sendiri, Ramazzini menggambarkan dengan sangat akurat stratifikasi dari pekerjaan, bahaya yang ada di tempat kerja tersebut dan penyakit yang mungkin muncul akibat pekerjaan tersebut. Meskipun Ramazzini memberikan cara pencegahan penyakit tersebut, seperti perlunya menutupi wajah untuk menghindari debu, tetapi kebanyakan dari rekomendasinya bersifat terapi dan kuratif.
Pada tahun 1775 Percival Pott, menyatakan bahwa para pekerja pembersih cerobong asap di Inggris menderita penyakit kanker skrotum. Percival Pott menekankan bahwa adanya jelaga dan kurangnya higiene di cerobong asap yang menyebabkan terjadinya kanker skrotum. Dari penelitiannya ini, maka Percival Pott menjadi Occupational epidemiologist pertama dalam sejarah.
Baru pada abad ke-19, dua orang dokter yakni Charles Thackrah di Inggris dan Benjamin W. Mc Cready di Amerika, memulai lahirnya literatur modern dalam bidang rekognisi penyakit akibat kerja.
On the influenece of Trades, Professions, and Occupations in the United States, in the Production of disease, hasil karya Benjamin Mc Cready, merupakan literatur kedokteran kerja pertama yang dipublikasikan di Amerika.
Komponen dan Ruang Lingkup Higiene Industri
Menurut Suma’mur (1976) Higiene Perusahaan adalah spesialisasi dalam ilmu hygiene beserta prakteknya yang melakukan penilaian pada faktor penyebab penyakit secara kualitatif dan kuantitatif di lingkungan kerja Perusahaan, yang hasilnya digunakan untuk dasar tindakan korektif pada lingkungan, serta pencegahan, agar pekerja dan masyarakat di sekitar perusahaan terhindar dari bahaya akibat kerja, serta memungkinkan mengecap derajat Kesehatan yang setinggi- tingginya.
Sehingga Higiene industri didefinisikan sebagai ilmu dan seni dalam melakukan antisipasi, rekognisi, evaluasi, dan pengendalian terhadap faktor-faktor lingkungan atau stresses, yang timbul di atau dari tempat kerja, yang bisa menyebabkan sakit, gangguan kesehatan dan kesejahteraan atau ketidaknyamanan yang berarti bagi pekerja maupun warga masyarakat masyarakat
No Komponen dan ruang lignkup HI Keterangan
1. Ilmu dan Seni Merupakan ilmu pengetahuan yang berisikan teori, metode, danimplementasi keilmuan yang memenuhi kaidah ilmiah.
Terdapat aspek seni khususnya dalam mengimplementasikan metode dan pendekatan-pendekatan keilmuan HI di tempat kerja.
2. Antisipasi Kegiatan memprediksi potensi bahaya yang ada di tempat kerja
3. Rekognisi Melakukan pengenalan atau identifikasi terhadap bahaya yang ada di tempat kerja
Melakukan pengukuran (spot) untuk menemukan keberadaan bahaya di tempat kerja
4. Evaluasi Melakukan sampling dan pengukuran bahaya di tempat kerja dengan metode yang spesifik.
Melakukan evaluasi dan analisis risiko terhadap semua bahaya yang ada dengan menggunakan standar dan kriteria tertentu.
5. Kontrol Kegiatan untuk mengendalikan bahaya di tempat kerja sehingga
keberadaannya tidak menimbulkan dampak kesehatan bagi pekerja khususnya dan masyarakat umumnya.
6. Faktor lingkungan/stres Merupakan faktor lingkungan kerja yang meliputi segala sesuatu yang ada di tempat kerja.
Dalam jumlah tunggal disebut stressor, dan dalam jumlah banyak (multi factor) disebut stresses
7. Di/dari tempat kerja Terdapat di lingkungan kerja atau di tempat lain namun berasal dari lingkungan kerja
8. Menyebabkan gangguan Pada pekerja khususnya dan pada warga masyarakat umumnya.
Warga masyarakat yaitu yang tinggal atau bermukim berdekatan dengan lingkungan industri.
Berdasarkan uraian di atas, secara garis besar ditemukan bahwa ruang lingkup higiene industri meliputi antisipai, rekognisi, evaluasi dan kontrol(pengemdalian). Keempat tahapan ini Merupakan sekuen atau urutan langkah atau metode dalam implementasi HI, Urutan ini tidak bisa dibolakbalik serta merupakan suatu siklus yang tidak berakhir (selama aktivitas industri berjalan).
a. Tujuan Antisipasi
• Mengetahui potensi bahaya dan risiko lebih dini sebelum muncul menjadi bahaya dan risiko yang nyata
• Mempersiapkan tindakan yang perlu sebelum suatu proses dijalankan atau suatu area dimasuki
• Meminimalisasi kemungkinan risiko yang terjadi pada saat suatu proses dijalankan atau suatu area dimasuki.
b. Tujuan Rekognisi
• Mengetahui karakteristik suatu bahaya secara detil (sifat, kandungan, efek, severity, pola pajanan, besaran)
• Mengetahui sumber bahaya dan area yang berisiko
• Mengetahui pekerja yang berisiko
c. Pada tahap penilaian/evaluasi lingkungan, dilakukan pengukuran, pengambilan
sampel dan analisis di laboratorium. Melalui penilaian lingkungan dapat ditentukan
kondisi lingkungan kerja secara kuantitatif dan terinci, serta membandingkan hasil
pengukuran dan standar yang berlaku, sehingga dapat ditentukan perlu atau tidaknya
teknologi pengendalian, ada atau tidaknya korelasi kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan lingkungannya , serta sekaligus merupakan dokumen data di tempat kerja. Tujuan pengukuran dalam evaluasi yaitu :
• Untuk mengetahui tingkat risiko
• Untuk mengetahui pajanan pada pekerja
• Untuk memenuhi peraturan (legal aspek)
• Untuk mengevaluasi program pengendalian yang sudah dilaksanakan
• Untuk memastikan apakah suatu area aman untuk dimasuki pekerja
• Mengetahui jenis dan besaran hazard secara lebih spesifik
d. Ada 6 tingkatan Pengontrolan di Tempat Kerja yang dapat dilakukan:
• Eliminasi : merupakan upaya menghilangkan bahaya dari sumbernya serta menghentikan semua kegiatan pekerja di daerah yang berpotensi bahaya.
• Substitusi : Modifikasi proses untuk mengurangi penyebaran debu atau asap, dan
mengurangi bahaya, Pengendalian bahaya kesehatan kerja dengan mengubah beberapa
peralatan proses untuk mengurangi bahaya, mengubah kondisi fisik bahan baku yang diterima untuk diproses lebih lanjut agar dapat menghilangkan potensi bahayanya.
• Isolasi : Menghapus sumber paparan bahaya dari lingkungan pekerja dengan menempatkannya di tempat lain atau menjauhkan lokasi kerja yang berbahaya dari pekerja lainnya, dan sentralisasi kontrol kamar,
• Engineering control : Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi pada faktor lingkungan kerja selain pekerja
ü Menghilangkan semua bahaya-bahaya yang ditimbulkan.
ü Mengurangi sumber bahaya dengan mengganti dengan bahan yang kurang berbahaya.
ü Work proses ditempatkan terpisah.
ü Menempatan ventilasi local/umum.
• Administrasi control: Pengendalian bahaya dengan melakukan modifikasi pada interaksi pekerja dengan lingkungan kerja
ü Pengaturan schedule kerja atau meminimalkan kontak pekerja dengan sumber bahaya.
• Alat Pelindung Diri (APD), Ini merupakan langkah terakhir dari hirarki pengendalian.
Jenis-jenis alat pelindung diri
Alat pelindung diri diklasifikasikan berdasarkan target organ tubuh yang berpotensi terkena resiko dari bahaya.
v Mata
Sumber bahaya: cipratan bahan kimia atau logam cair, debu, katalis powder, proyektil, gas, uap dan radiasi.
APD: safety spectacles, goggle, faceshield, welding shield.
v Telinga
Sumber bahaya: suara dengan tingkat kebisingan lebih dari 85 dB.
APD: ear plug, ear muff, canal caps.
v Kepala
Sumber bahaya: tertimpa benda jatuh, terbentur benda keras, rambut terlilit benda berputar. APD: helmet, bump caps.
v Pernapasan
Sumber bahaya: debu, uap, gas, kekurangan oksigen (oxygen defiency).
APD: respirator, breathing apparatus
v Tubuh
Sumber bahaya: temperatur ekstrim, cuaca buruk, cipratan bahan kimia atau logam cair, semburan dari tekanan yang bocor, penetrasi benda tajam, dust terkontaminasi.
APD: boiler suits, chemical suits, vest, apron, full body suit, jacket.
v Tangan dan Lengan
Sumber bahaya: temperatur ekstrim, benda tajam, tertimpa benda berat, sengatan listrik, bahan kimia, infeksi kulit. APD: sarung tangan (gloves), armlets, mitts.
v Kaki
Sumber bahaya: lantai licin, lantai basah, benda tajam, benda jatuh, cipratan bahan kimia dan logam cair, aberasi. APD: safety shoes, safety boots, legging, spat.
B. Ahli Higiene Industri
Seorang yang ahli di bidang higiene industri biasanya disebut industrial hygienist. Pada umumnya latar belakang pendidikan dari seorang ahli higiene insustri adalah dari bidang teknik atau ilmu dasar namun tidak tertutup kemungkinan bagi dokter, perawat atau ahli fisiologi untuk mengikuti pendidikan formal dalam bidang ini. Pendidikan pada umumnya juga berlangsung 2 tahun. Banyak lembaga pendidikan tinggi menyelenggarakan pendidikan ini bersamaan dengan pendidikan ahli keselamatan kerja Kebutuhan akan tenaga profesional dalam bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja makin meningkat, sejalan dengan perkembangan yang pesat dalam bidang industri dan akan segera datangnya era globalisasi.
Adapun tugas daripada seorang industrial hygeinist yaitu :
Ø Mengidentifikasi bahaya-bahaya yang mungkin dapat terjadi, permasalahan-permasalahan kerja serta resikonya. Menganalisa kondisi-kondisi yang dapat diukur untuk mencari permasalan yang timbul.
Ø Mengembangkan strategi sampling dan menggunakan peralatan-peralatan sampling yang dimiliki untuk mengukur seberapa besar sumber bahaya di tempat kerja.
Ø Melakukan pengamatan terhadap bagaimana dampak sumber-sumber bahaya kimia dan fisika dapat mempengaruhi kesehatan pekerja dengan melakukan pengukuran.
Ø Membandingkan hasil sampling dengan standart atau petunjuk yang relevan untuk menentukkan apakah pengontrolan khusus diperlukan.
Ø Melakukan evaluasi terhadap proses industri untuk mengetahuai ada atau tidaknya korelasi kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan lingkungannya.
Ø Mengerti segala bentuk peraturan pemerintah yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja.
Ø memastikan pekerja terbebas dari bahaya-bahaya yang ada di tempat kerja.
C. Potensi potensi bahaya di lingkungan perusahaan/Industri
Faktor lingkungan kerja yang dapat menimbulkan bahaya di tempat kerja(occupational health hazards) adalah bahaya faktor fisika, bahaya faktor kimia, bahaya faktor biologi,faktor ergonomi dan psikologi.
1. Bahaya Fisik :
o Kebisingan
Kebisingan mempengaruhi kesehatan antara lain dapat menyebabkan kerusakan pada indera pendengaran sampai kepada ketulian. Dari hasil penelitian diperoleh bukti bahwa intensitas bunyi yang dikategorikan bising dan yang mempengaruhi kesehatan (pendengaran) adalah diatas 60 dB. Oleh sebab itu para karyawan yang bekerja di pabrik dengan intensitas bunyi mesin diatas 60 dB maka harus dilengkapi dengan alat pelindung (penyumbat) telinga guna mencegah gangguan pendengaran. Disamping itu kebisingan juga dapat mengganggu komunikasi.
Sumber Suara Skala intensitas(dB) Sumber suara Skala intensitas (dB)
Halilintar 120 Kantor gaduh 70
Meriam 110 Radio 60
Mesin uap 100 Kantor pd umumnya 40
Jalan yg ramai 90 Rumah tenang 30
Pluit 80 Tetesan air 10
o Penerangan atau poencahayaan
Penerangan yang kurang di lingkungan kerja bukan saja akan menambah beban kerja karena mengganggu pelaksanaan pekerjaan tetapi juga menimbulkan kesan kotor. Oleh karena itu penerangan dalam lingkungan kerja harus cukup untuk menimbulkan kesan yang higienis. Disamping itu cahaya yang cukup akan memungkinkan pekerja dapat melihat objek yang dikerjakan dengan jelas dan menghindarkan dari kesalahan kerja.
Akibat dari kurangnya penerangan di lingkungan kerja akan menyebabkan kelelahan fisik dan mental bagi para karyawan atau pekerjanya. Gejala kelelahan fisik dan mental ini antara lain sakit kepala (pusing-pusing), menurunnya kemampuan intelektual, menurunnya konsentrasi dan kecepatan berpikir. Disamping itu kurangnya penerangan memaksa pekerja untuk mendekatkan matanya ke objek guna memperbesar ukuran benda. Untuk mengurangi kelelahan akibat dari penerangan yang tidak cukup dikaitkan dengan objek dan umur pekerja ini dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Perbaikan kontras dimana warna objek yang dikerjakan kontras dengan latar
belakang objek tersebut. Misalnya cat tembok di sekeliling tempat kerja harus
berwarna kontras dengan warna objek yang dikerjakan.
b. Meningkatkan penerangan, sebaiknya 2 kali dari penerangan diluar tempat kerja.
Disamping itu di bagian-bagian tempat kerja perlu ditambah dengan dengan lampu-lampu tersendiri.
c. Pengaturan tenaga kerja dalam shift sesuai dengan umur masing-masing tenaga
kerja. Misalnya tenaga kerja yang sudah berumur diatas 50 tahun tidak diberikan tugas di malam hari.
• Getaran
v Getaran mempunyai parameter yang hampir sama dengan bising seperti: frekuensi, amplitudo, lama pajanan dan apakah sifat getaran terus menerus atau intermitten.
v Metode kerja dan ketrampilan memegang peranan penting dalam memberikan efek yang berbahaya. Pekerjaan manual menggunakan “powered tool” berasosiasi dengan gejala gangguan peredaran darah yang dikenal sebagai ” Raynaud’s phenomenon ” atau ” vibration-induced white fingers”(VWF).
v Peralatan yang menimbulkan getaran juga dapat memberi efek negatif pada sistem saraf dan sistem musculo-skeletal dengan mengurangi kekuatan cengkram dan sakit tulang belakang.
2. Bahaya Kimia
o Korosi
Bahan kimia yang bersifat korosif menyebabkan kerusakan pada permukaan tempat dimana terjadi kontak. Kulit, mata dan sistem pencernaan adalah bagain tubuh yang paling umum terkena. Contoh : konsentrat asam dan basa , fosfor.
o Iritasi
Iritasi menyebabkan peradangan pada permukaan di tempat kontak. Iritasi kulit bisa menyebabkan reaksi seperti eksim atau dermatitis. Iritasi pada alat-alat pernapasan yang hebat dapat menyebabkan sesak napas, peradangan dan oedema ( bengkak )Contoh :
§ Kulit : asam, basa,pelarut, minyak .
§ Pernapasan : aldehydes, alkaline dusts, amonia, nitrogen dioxide, phosgene, chlorine ,bromine, ozone.
o Racun Sistemik
Racun sistemik adalah agen-agen yang menyebabkan luka pada organ atau sistem tubuh. Contoh :
§ Otak : pelarut, lead,mercury, manganese
§ Sistem syaraf peripheral : n-hexane,lead,arsenic,carbon disulphide
§ Sistem pembentukan darah : benzene,ethylene glycol ethers
§ Ginjal : cadmium,lead,mercury,chlorinated hydrocarbons
§ Paru-paru : silica,asbestos, debu batubara ( pneumoconiosis )
3. Faktor Biologi
Ø Bakteri.
Bakteri mempunyai tiga bentuk dasar yaitu bulat (kokus), lengkung dan batang (basil). Banyak bakteri penyebab penyakit timbul akibat kesehatan dan sanitasi yang buruk, makanan yang tidak dimasak dan dipersiapkan dengan baik dan kontak dengan hewan atau orang yang terinfeksi. Contoh penyakit yang diakibatkan oleh bakteri : anthrax, tbc, lepra, tetanus, thypoid, cholera, dan sebagainya.
Ø Virus.
Virus mempunyai ukuran yang sangat kecil antara 16 – 300 nano meter. Virus tidak mampu bereplikasi, untuk itu virus harus menginfeksi sel inangnya yang khas. Contoh penyakit yang diakibatkan oleh virus : influenza, varicella, hepatitis, HIV, dan sebagainya.
Ø Jamur.
Jamur dapat berupa sel tunggal atau koloni, tetapi berbentuk lebih komplek karena berupa multi sel. Mengambil makanan dan nutrisi dari jaringan yang mati dan hidup dari organisme atau hewan lain.
4. Ergonomi
Ergonomi berfungsi untuk menyerasikan alat, cara, proses dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan batasan manusia untuk terwujudnya kondisi dan lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan tercapai efisiensi yang setinggi-tingginya.
Pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif, secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal sebagai “to fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job”. Adapun beberapa posisi yang penting untuk penerapan ergonomi di tempat kerja adalah sebagai berikut :
a. Posisi berdiri : Ukuran tubuh yang penting adalah tinggi badan berdiri, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul, panjang lengan.
b. Posisi duduk : Ukuran tubuh yang penting adalah tinggi duduk, panjang lengan atas, panjang lengan bawah dan tangan, jarak lekuk lutut dan garis punggung, serta jarak lekuk lutut dan telapak kaki.
5. Faktor Psikologi
Perasaan aman, nyaman dan sejahtera dalam bekerja yang didapatkan oleh pekerja. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan kerja (cahaya, ventilasi, posisi kerja) yang tidak menimbulkan stres pada pekerja.



Posted: Agustus 1, 2010 by ekasumarna in Course on OH&S
Tag:
Industrial Hygiene Training, Safety Training
Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan elemen dasar di dalam program pengendalian bahaya di tempat kerja dan untuk meningkatkan kewaspadaan karyawan, pengetahuan tentang praktek kerja aman, dan tindakan lainnnya dalam rangka meningkatkan K3 di tempat kerja.
Sebagai sasaran pelatihan, pengenalan bahaya, belajar praktek-praktek kerja aman dan cara-cara preventif lainnya diharapkan dapat berkontribusi terhadap tujuan mengurangi resiko cedera dan sakit akibat kerja.
Bagi mereka yang terlibat di bidang K3 sebagai praktisi K3 atau mereka yang baru saja menerima penugasan sebagai praktisi K3, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anda adalah sangat dibutuhkan. Untuk membantu anda dalam hal ini, kami menyediakan pelatihan dan konsultasi, mulai dari pelatihan K3 dasar, modul spesifik sampai konsultasi mengembangkan sistem manejemn K3 yang khas (tailor-made) untuk perusahaan anda.
Terima kasih.
Eka Sumarna at Eka_Sumarna@yahoo.com
Training offered:
  Basic Principles of Occupational Health & Safety
  Basic Industrial Hygiene
  Industrial Hygiene Sampling and Monitoring
  Safe Entry and Working at Confined Space
  Gas detection with portable gas detector.
  Managing Industrial Hygiene & Occupational Health Program.
  Hazard Communication (HazCom)
  OHSAS 18001 awareness
plus Consultancy Services on OH&S.
Posted: Agustus 1, 2010 by ekasumarna in Artikel Safety
Tag:
Efektif komunikasi Safety, Safety Communication
KOMUNIKASI K3 YANG EFEKTIF
Komunikasi menjadikan orang, tugas, proses dan sistem saling berinteraksi bersama-sama untuk mencapai sasaran K3 yang ditetapkan. Cara kita mengkomunikasikan K3 akan mempengaruhi apakah orang akan memahami dan dan terlibat dalam proses K3 atau tidak, dan bahasa yang kita gunakan seringkali menentukan apakah proses tersebut diterima atau ditolak. Sekedar memberi pelatihan kepada karyawan untuk bekerja selamat mungkin belum cukup. Perlu motivasi dan bentuk bentuk publikasi untuk mendorong mereka untuk mengambil tanggung jawab bagi keselamatan dan kesehatan dirinya sendiri. Metode yang digunakan adalah menciptakan suasana yang mempromosikan perilaku selamat, dan mengingatkan serta menekankan pentingnya hal tersebut bagi karyawan dan perusahaan.
Proses komunikasi adalah seperti berlalu lintas di jalan raya. Anda perlu merencanakan mau kemana, memperhatikan rambu-rambu, dan mengambil jalan lain apabila diperlukan, berperilaku sesuai kondisi dan memperlambat jalannya jika diperlukan. Pengertian komunikasi tidak sekedar menurut apa yang dipikirkan si pengirim pesan – tergantung pula dari respon si penerima. Perlu waktu dan usaha memang untuk memiliki teknik yang sempurna dalam menyampaikan pesan K3 secara efektif.
Bahasa dan kata-kata
Pemilihan bahasa dan kata-kata amat sangat berpengaruh terhadap hasil komunikasi K3. Pemilihan kata-kata ‘positif’ dapat memberikan tanggapan yang berbeda, contohnya:
Ungkapan Negatif
Ungkapan Positif
Masalahnya apa?
Anda seharusnya ….
Anda tidak paham
Saya sudah bilang sebelumnya untuk tidak …
Ini berbiaya mahal
Bagaimana saya dapat menolong anda?
Mulai sekarang … atau lain kali
Mari saya coba sekali lagi
Bagaimana kalau mencoba dengan cara ini
Ini adalah investasi untuk kesehatan
Umpan balik dapat positif atau negatif, dan dapat mempengaruhi kualitas dan frekuensi perilaku. Umpan balik yang efektif adalah alat berharga untuk mempengaruhi perilaku selamat di tempat kerja. Bahasa yang mempunyai arti mendua atau subyektif dapat menjadi kontra-produktif. Contohnya, pernyataan ”tampaknya ada tidak menyadari, ceroboh atau sembrono” hanya menambah kebencian atau dendam dan mengurangi penerimaan dari pesan perilaku yang disampaikan. Mengatakan bahwa insiden atau cedera adalah ”kesialan” menunjukkan bahwa insiden tidak dapat dicegah. Hal ini bertolak belakang dengan filosofi bahwa insiden dapat dicegah.
Komplain dan kritik
Kita mungkin dihadapkan pada resistensi perubahan dalam hal praktek pekerjaan atau mengadopsi prosedur baru. Ungkapan-ungkapan di bawah ini mengindikasikan hak tersebut:
Saya sudah melakukan ini sejak tahun kuda dan semuanya baik-baik saja
Tidak akan menimpa saya
Kami telah melakukan sebelumnya
Kecelakaan memang harus terjadi
Tidak akan berhasil
Ada yang lebih penting untuk dilakukan
Mereka tidak mengijinkan
Saya terlalu sibuk untuk melakukan itu
Kamu tidak faham
Di luar bujet saya
Safety hanya iseng saja
Tidak ada seorangpun senang akan kritik negatif dan beberapa orang lebih sensitif dibandingkan yang lainnya. Sewaktu membicarakan kesalahan atau praktek kerja yang tidak selamat, orang akan dengan gampang membuat alasan, untuk itu komunikasikanlah topik dengan menunjukkan kesalahan dan menyarankan cara-cara untuk mencegah kesalahan serupa di masa datang.
Tips dasar komunikasi
·   Fikir sebelum bicara. Katakan apa yang anda maksud dan artikan dengan baik apa yang anda katakan.
·   Gunakan bahasa tubuh. Bahasa tubuh, intonasi suara dapat berpengaruh pada efektifitas komunikasi.
·   Bicara langsung dibandingkan menggunakan e-mail, terutama untuk hal-hal sensitif atau konflik personal.
·   Buat ringkas. Gunakan bahasa yang difahami dan sopan.
·   Beri dukungan. Perilaku beresiko (seperti salah angkat) seharusnya diikuti tindakan korektif segera untuk menghentikan dan mencegah kejadian berulang.
·   Tekankan kembali pesan. Ingatkan karyawan agar berlaku selamat di kemudian hari.
·   Beri apresiasi, dukungan dan selamat.
·   Beri contoh. Perilaku buruk akan ditiru, dianggap hal yang dilakukan tersebutlah yang benar.
Sumber: Health Safety Executive
Posted: Agustus 1, 2010 by ekasumarna in Artikel Industrial Hygiene
Tag:
Bahaya bahan kimia, Chemical hazard
Paparan berlebih terhadap bahan kimia tertentu dapat menyebabkan sejumlah masalah kesehatan. Waktu adalah hal penting dalam masalah ini: berapa lama efek akan muncul dan kapan ia berakhir.
Efek Akut biasanya terjadi segera setelah terpapar. Efek tersebut biasanya tidak berlangsung lama, dan mungkin menghilang sewaktu tidak ada paparan lagi. Beberapa efek akut, seperti sakit kepala atau memar pada kulit, cenderung tidak memiliki dampak besar, tetapi untuk suatu bahan kimia yang memiliki dosis lethal, efeknya dapat mematikan seketika.
Efek Kronis biasanya dihasilkan dari paparan dalam waktu lama. Perlu waktu lama, kadang bahkan tahunan, pengaruh paparan baru muncul. Namun, jika masalahnya telah muncul, maka dapat berlangsung lama. Efek kronis umumnya bersifat serius. Kanker dan masalah reproduksi adalah contoh efek kronis. Gangguan kesehatan lainnya yang termasuk kategori ini adalah anemia, bronkitis kronis, dan kerusakan pada hati.
Bahaya kesehatan kimia juga dibagi berdasarkan rute paparannya. Bahan kimia dapat masuk ke tubuh dan menyebakan masalah kesehatan melalui :
• Kontak dengan Kulit
• Kontak pada mata
• Terhirup
• Termakan
Beberapa bahan kimia memiliki efek berbahaya melalu rute paparan manapun. Yang lainnya, mungkin terbesar pengaruhnya melalui salah satu rute. Untuk itu sangat penting untuk mengetahui rute mana yang diperhatikan dan perlindungan terhadap paparan.
Waspada selalu terhadap bahaya kesehatan dan ambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghindarinya.
Di bawah ini panduan umum yang perlu diperhatikan
·   Ikuti petunjuk dari pabrik dan prosedur perusahaan mengenai bahan kimia dan peralatannya.
·   Jangan mengambil jalan pintas
·   Periksa wadah secara berkala dari kemungkinan bocor dan tutup jika tidak digunakan.
·   Lapokan segera jika ada tumpahan, bersihkan jika anda terlatih, memilki alat memadai, dan ditugaskan untuk pekerjaan tersebut.
·   Pastikan area berventilasi.
·   Gunakan pakaian pelindung yang direkomendasikan seperti tercantum di dalam MSDS dan disediakan oleh perusahaan.
·   Inspeksi semua APD sebelum digunakan.
·   Pindahkan dan buang pakaian yang terkontaminasi dengan benar, mengacu pada prosedur perusahaan.
·   Jangan membawa makanan, minuman, atau rokok ke area kerja.
·   Cucilah tangan dan badan dengan seksama sebelum makan, minum, atau merokok.
·   Bersihkan alat, peralatan, dan pakaian yang terpapar bahan kimia berbahaya sebelum digunakan kembali.
·   Buang semua material yang terkontaminasi dengan benar.
Hal penting pula untuk bertindak cepat dan tepat jika anda dan rekan kerja anda terpapar bahan kimia berbahaya. Setiap detik dapat menentukan.
Oleh karena anda tidak dapat memastikan bagaimana seriusnya paparan yang terjadi, maka mintalah pertolongan medis. Kemudian periksa MSDS untuk langkah P3K. Prosedur P3K tidak sama untuk setiap bahan, namun secara umum langkahnya adalah sebagai berikut:
·   Kontak dengan Kulit: Lepaskan pakaian yang terkontaminasi dan cuci kulit dengan air selama sekurang kurangnya 15 menit.
·   Kontak pada mata: Bilas mata dan kelopak dengan air selama sekurang-kurangnya 15 menity.
·   Terhirup: Bawa korban ke area berudara segar segera. Korban mungkin memerlukan bantuan pernapasan.
·   Termakan: Dapatkan pertolongan medis segera. Ikuti petunjuk di dalam MSDS secara seksama. Beda bahan kimia memerlukan perlakukan yang berbeda pula
Posted: Oktober 29, 2009 by ekasumarna in Artikel Safety
Tag:
Elemen kunci Program K3; Elemen Program K3
International Loss Control Institute (ILCI) telah mengidentifikasi 20 elemen program yang dipertimbangkan termasuk esensial untuk suksesnya upaya pengendalian kerugian (loss). Elemen program tersebut adalah:
1.                        Kepimimpinan dan Administrasi
2.                        Manajemen pelatihan
3.                        Inspeksi yang terencana
4.                        Analisis tugas dan prosedur
5.                        Penyelidikan kecelakaan
6.                        Observasi Pekerjaan
7.                        Kesiapan keadaan darurat
8.                        Aturan organisasi
9.                        Analisis kecelakaan
10.                    Pelatihan karyawan
11.                    Alat Pelindung Diri
12.                    Jasa dan kontrol kesehatan
13.                    Sistem evaluasi program
14.                    Kontrol enjinering/rekayasa
15.                    Komunikasi personal
16.                    Pertemuan kelompok
17.                    Promosi umum
18.                    Pekerja baru dan penempatan
19.                    Kontrol pembelian
20.                    K3 di luar kerja
       Ahli lain [1] meringkas menjadi 8 buah program, yaitu sebagai berikut:
Elemen Administratif (Administratif  Elements)
1.                        Manual (prosedur dan acuan)
2.                        Komite dan koordinator
3.                        Pelatihan, minat, dan motivasi
      Elemen Aksi (Action Elements)
1.                        Inspeksi
2.                        Pengendalian Bahaya
3.                        Analisis bahaya pekerjaan
4.                        Pertemuan K3
5.                        Penyelidikan kecelakaan.
      Kedelapan elemen tersebut akan diuraikan secara ringkas, sebagai berikut:
 II.1    Manual K3 (Prosedur dan Acuan)
         Sebuah manual K3 merupakan dasar dari efektifitas system manajemen K3. Tanpa prosedur dan acuan dasar, upaya pengendalian kerugian akan tidak terkoordinasi dan berjalan serampangan.  Segala masalah yang timbul akan ditangani bilamana muncul, daripada penanganan yang berorientasi secara sistematik.
         Terdapat banyak macam cara yang berbeda bagaimana menyusun sebuah manual, tergantung kebutuhan. Kriteria yang penting dari sebuah manual adalah:
·   Mudah digunakan (user friendly), yaitu terdapat tatanan isi yang logis untuk memudahkan pencarian prosedur.
·   Sistem indeks dan penomoran yang memudahkan proses pengisian arsip yang baru maupun yang direvisi.
·   Sistem indeks dan penomoran harus dapat diperluas mencakup sistem klasifikasi yang besar sehingga prosedur baru di kemudian hari dapat masuk dengan mudah ke dalam sistem.
·   Sistem indeks dan penomoran memiliki referensi arsip sehingga tambahan bahan dapat disimpan dan ditempatkan secara mudah.
II.2.   KOMITE DAN KOORDINATOR K3
         Komite K3
         Jumlah komite K3 tergantung dari organisasi dan manajemen strukturnya. “Top-Down” otokratis organisasi akan memiliki sedikit komite. Sedangkan  lainnya mungkin partisipatif dan konsensus dengan memiliki variasi tanggung jawab.
         Apa manfaat dari komite K3?  Tujuan umum dari program K3 yang sistematis adalah mencegah kecelakaan. Untuk mencapai tujuan ini, sistem harus terarah pada target mencari dan mengendalikan bahaya. Manfaat penting dari komite dalam menemukan dan mengendalikan bahaya adalah:
 Pengalaman dan keahlian dapat terpadu. Keterpaduan ini bersama-sama dalam suatu urun rembug masalah akan menghasilkan pengembangan yang inovatif dan pemecahan masalah yang praktis.
1.                        Kesempatan bagi sejumlah orang untuk bekerja sama dalam suatu pertemuan dan menghasilkan komunikasi yang lebih baik.
2.                        Rekomendasi dari komite, terutama masalah yang kontraversi, akan dapat diterima lebih positif oleh anggota lainnya di organisasi.
          Secara garis besar komite dikategorikan sebagai berikut:
·   Komite K3 eksekutif
·   Komite Program K3 – pelatihan, rekognisi, dan pengendalian bahaya.
·   Komite K3 Departemen
·   Komite K3 Teknis – seperti untuk urusan pelistrikan, APD, Alat angkat Crane dsb.
         Koordinator K3
         Program koordinator K3 didisain untuk menyediakan dukungan dan bantuan kepada manajemen departemen. Posisi ini biasanya tugas paruh-waktu. Tugas seorang koordinator K3 adalah membantu manajer departemen untuk urusan administratif  beberapa program, termasuk menentukan titik-titik lemah dari program dan membuat rekomendasi untuk penyempurnaannya.
         Petugas professional K3 harus bertemu secara rutin dengan semua koordinator untuk memberikan arahan dan pelatihan yang diperlukan. Koordinator K3 tidak mengambil alih fungsi pengawas lini depan dalam hal K3. Fungsi utama dari koordinator K3 ini adalah membantu manajer unit dalam hal administrasi program K3.
         Beberapa contoh tugas dan tanggung jawab koordinator K3:
·   Mengaudit manual K3 di bagiannya untuk memastikan manual tersebut selalu baru (up to date).
·   Memastikan  para pengawas melengkapi dokumentasi yang diperlukan untuk orientasi pegawai baru, komunikasi bahan berbahaya, dan pelatihan yang wajib diikuti pekerja.
·   Membantu penyelidikan kecelakaan serius.
·   Mengecek log pengendalian bahaya di unitnya.
·   Menelusuri tindakan pengendalian yang masih belum dikoreksi.
·   Membantu pengawas dalam hal administrasi program analisis bahaya pekerjaan.
·   Mengaudit ketaatan pekerja terhap prosedur K3.
II.3    Pelatihan K3
         Elemen pelatihan pada sistem ini biasanya diberikan oleh karyawan yang telah mendapatkan spesialis pelatihan sebagai instruktur.  Banyak pelatihan yang wajib diikuti oleh karyawan berdasarkan peraturan dan perundangan.  Berikut pelatihan yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan kerja:
·   Orientasi pegawai baru.
·   Pelatihan untuk pengawas.
·   Komunikasi bahan berbahaya.
·   Operator pengelolaan limbah berbahaya.
·   Perlindungan pendengaran.
·   Perlindungan pernapasan.
·   Confined space
·   Lockout/tagout (LOTO)
·   Emergency response
·   Crane operation
·   Scaffold erection and dismantling
·   Dsb
 Minat dan Motivasi
         Setelah pelatihan dilaksanakan, agar program pencegahan kerugian dapat sukses maka program harus memasukan program tambahan untuk meningkatkan minat dan motivasi dari pekerja, seperti misalnya:
·    Papan buletin (Bulletin boards).
·    Poster dan tanda-tanda peringatan.
·    Distribusi majalah, buletin atau media cetak lainnya.
·    Spesial tip.
·    Penghargaan dan rekognisi pencapaian suatu prestasi K3.
·    Program insentif
·    Penghargaan hasil kerja yang luar biasa, dsb.
II.4    Inspeksi K3
         Inspeksi K3 dilaksanakan oleh karyawan yang memiliki pengalaman dan tingkat kompetensi yang cukup untuk mengenali bahaya di tempat kerja dan memberikan solusi yang cukup untuk tindakan perbaikan atau kontrol. Frekuensi dan ruang lingkup inspeksi tergantung dari jenis dan tingkat bahaya yang mungkin timbul dan kompleksitas dari operasi.
         Inspeksi yang efektif harus mencakup tiga elemen penting: penugasan tanggung jawab, inspeksi yang menekankan pada inspeksi masalah internal, dan tindak lanjut tindakan perbaikan.
II.5    Pengendalian Bahaya
         Bahaya potensial di tempat kerja harus dikenali dan dikendalikan dengan menetapkan prosedur dan menggunakan cara sebagai berikut:
·   Teknik enjinering jika memungkinkan dan mencukupi
·   Menetapkan prosedur bekerja secara aman untuk diikuti oleh semua pihak yang terkena, pelatihan, penegakan aturan, dan sistem  disiplin yang dikomunikasikan dengan baik.
·   Pengendalian administratif dengan cara mengurangi waktu pemajanan
·   Penggunaan Alat Pelindung Diri.
         Bahaya di tempat kerja yang teridentifikasi harus dievaluasi potensial efeknya untuk menentukan prioritas pengendaliannya. Dalam penentuan prioritas digunakan sistem rating dari resiko.
 II.6    Analisis Bahaya Pekerjaan
         Analisis bahaya pekerjaan sudah menjadi bagian dari program pencegahan kecelakaan. Analisis Bahaya Pekerjaan ini membantu pemahaman tentang bahaya yang mungkin ada di dalam suatu pekerjaan dan bagaimana mencegah agar tidak menyebabkan cedera dengan cara mengikuti langkah-langkah pencegahannya yang direkomendasikan.
         Analisis ini terdiri dari pengamatan langkah-langkah pekerjaan, apa bahayanya, dan bagaimana tindakan kontrolnya. Apa bahayanya menyangkut apa-apa saja tindakan yang mungkin dilakukan secara tidak benar oleh pekerja sehingga menyebabkan kecelakaan. Sedangkan bagaimana tindakan kontrolnya berkenaan dengan apa-apa saja yang harus dilakukan oleh pekerja tersebut untuk mengendalikan bahaya.
 II.7    Pertemuan K3
         Pertemuan K3 berfungsi untuk mendorong keterlibatan pekerja dalam penyusunan program dan penentuan kebijakan yang berpengaruh pada keselamatan dan kesehatan kerja mereka.  Pada pertemuan K3 kita  mendapatkan komitmen dari pekerja bagaimana mencapai tujuan program secara selamat.
         Pertemuan K3 akan efektif bilamana topik yang dibicarakan menekankan pada pengendalian/kontrol praktek-praktek tidak aman yang beresiko tinggi, yang menyebabkan terjadinya cedera serius maupun kerusakan harta benda yang besar.
II.8    Penyelidikan Kecelakaan
         Penyelidikan kecelakaan adalah proses penentuan oleh seorang atau lebih banyak orang yang memenuhi kualifikasi terhadap fakta dan latar belakang informasi yang siginifikan berkaitan terjadinya suatu kecelakaan, berdasarkan pernyataan yang diambil dari orang-orang yang terlibat, saksi-saki, pengamatan lapangan, pengamatan terhadap kendaraan dan permesinan atau peralatan.
         Program penyelidikan kecelakaan di dukung oleh prosedur tertulis mengenai Penyelidikan dan Pelaporan Kecelakaan.  Di dalam prosedur tersebut secara minimum mencakup elemen-elemen berikut:
Tujuan dan definisi
·   Semua kecelakaan atau insiden harus dilaporkan.
·   Jenis kecelakaan dan penyelidikannya.
·   Siapa yang harus diberitahu
·   Pelaporan kepada instansi pemerintah
·    Prosedur dan Acuan
o Prioritas setelah terjadi kecelakaan, tindakan apa saja yang harus diambil
o Pengumpulan informasi
o Analisa fakta
o Menentukan kontrol agar kejadian serupa tidak terulang
o Pelaporan dan distribusi laporan

[1] Richard W. Lack, P.E., CSP, CPP, CHCM dalam bukunya Essentials of Safety and Health Management. 1996.
Posted: Juni 5, 2009 by ekasumarna in Artikel Industrial Hygiene
Tag:
fatigue, Kelelahan
Kelelahan dapat menimbulkan bahaya yang serius. Beberapa kejadian yang disebabkan kelelahan diantaranya:
·   Operator tertidur saat mengendari Haul Truck;
·   Supir truk kehilangan kontrol;
·   Kinerja menurun sewaktu melakukan pekerjaan repetitif/berulang/membosankan;
·   Hilangnya konsentrasi dan banyak melakukan kesalahan.
Definisi “Kelelahan”
Tidak ada definisi operasional yang baku menggambarkan apa itu “kelelahan”, namun yang pasti kelelahan lebih dari sekedar mengantuk dan penyebabnya lebih dari sekedar lama kerja dan sifat fisik pekerjaan. Secara umum kelelahan dapat dipahami dengan membedakan sumbernya, dimensi-dimensinya, dan dampaknya terhadap kinerja. Untuk keperluan analisis, kelelahan dibedakan antara kelelahan akibart pekerjaan dan kelelahan bukan akibat pekerjaan, walaupun keduanya saling terkait.
Kelelahan bukan akibat pekerjaan, biasanya dialami mereka yang bekerja dengan sistem rotasi (shift), dapat diartikan sebagai kelelahan yang timbul karena situasi rumah dan keluarga, diluar kegiatan pekerjaan, merupakan pola hidup (termasuk penggunaan obat-obatan dan alkohol), pola dan masalah tidur seseorang, masalah keluarga, dan buruknya pengaturan kegiatan untuk menghadapi rotasi kerja.
Kelelahan akibat pekerjaan dapat dianggap sebagai produk dari organisasi pekerjaan dan faktor fisik seseorang, yaitu:
·   Lamanya waktu kerja dan pola istirahat, panjangnya waktu rotasi, urutan waktu rotasi, waktu off diantara waktu rotasi.
·   Waktu dimana saatnya kerja dan saat istirahat, dimana kondisi pagi, siang, sore, atau malam sangat bervariasi.
·   Waktu awal rotasi.
·   Riwayat pekerjaan satu minggu sebelumnya, dimana ber-efek pada gangguan tidur.
·   Kemampuan biologis memulihkan diri dari kelelahan. Ada orang yang cukup segar walaupun hanya sebentar tidur. Tetapi mereka yang “tumor” – tukang molor, kalau belum 6 jam rasanya belum afdol.
Dampak kelelahan terhadap kinerja
Dampak kelelahan terhadap kinerja merupakan suatu hasil dari kombinasi antara pekerjaan, faktor non pekerjaan, rotasi kerja, sifat pekerjaan, lamanya pekerjaan, dan siklus rotasi. Secara umum, efek kelelahan dapat ditunjukkan seperti halnya efek karena pengaruh alcohol. Dampak tersebut seperti:
·   berkurangnya kewaspadaam/konsentrasi;
·   waktu merespon yang melambat;
·   gangguan koordinasi tangan-mata;
·   berkurangnya fungsi kognitif dan pengambilan keputusan kritis; 
·   hilangnya kewaspadaan situasional;
·   meningkatnya tingkat kesalahan;
·   kecendrungan mengganggu akurasi dan kecepatan kerja;
·   gagal mengenali masalah yang timbul;
·   meningkatnya stress, frustasi, kejengkelan;
Kombinasi satu atau lebih gejala-gejala di atas dapat menyebabkan meningkatnya insiden dan tingkat keparahan kecelakaan. Perlu lebih diwaspadai bagi mereka yang bekerja dengan sistem rotasi.
ASPEK KERJA ROTASI
FAKTOR PENILAIAN
Sifat Pekerjaan
Apakah pekerjaan sukar secara fisik?Apakah memerlukan mental pada derajat yang tinggi?Apakah pekerjaan monoton?
Apakah pekerjaan berulang?
Bagaimana sifat tugas yang harus dilakukan?
Bagaimana sistem kerja-istirahat yang diterapkan?
Waktu istirahat yang diberikan cukup memadai?
Apakah pekerja terpajan oleh panas, suara bising atau kontaminan udara?
Apakah manajemen sudah melakukan penilaian terhadap kesesuaian pekerjaan dan tugas-tugas kepada pekerja rotasi, apa saja pembatasan-pembatasan yang meungkin harus dilakukan?

Orang
Berapa umur pekerja?Bagaimana status kesehatannya?Apakah pekerja mempunyai pengalaman dengan bekerja rotasi?
Bagaimana kemampuan adaptasi pekerja tersebut?
Apakah pekerje telah diberitahu mengenai bahaya bekerja pada sistem rotasi?
Apakah pekerja sudah terlatih bagaimana meminimalkan dampak bekerja rotasi?
Dapatkah pekerja tidur dengan baik selama hari istirahat-nya?

Sifat dan sistem kerja rotasi  
Apakah rotasi kerja malam dapat dikurangi seminimum mungkin?Kapan awal kerja rotasi?Berapa lama periode kerja rotas?
Bagaimana pola rotasi dilakukan?
Seberapa sering pertukaran rotasi dilakukan (lamanya hari berurutan dalam satu rotasi)?
Berapa lama waktu istirahat diantara waktu rotasi?
Apakah waktu off sudah cukup?
Dapatkah “double shift” dihindari?

Lain-lain
Asupan makanan pekerja rotasi?Aksesibilitas terhadap fasilitas di tempat kerja, seperti halnya pekerja “day-shift” (personil, first-aid, dll.)?Waktu istirahat yang cukup?
Pengawasan yang cukup?
Apakah kerja lembur dapat dihindari?
Sistem bonus untuk pekerja rotasi, dan bagaimana implementasinya?

Sumber: http://www.ilo.org/public/english/dialogue/sector/papers/austrmin/index.htm
1.                        Mengapa K3 (Safety ) itu penting?
2.                        Konsep dasar mengenai: Insiden dan Kerugian; Safety (K3),Hazard (Bahaya), Risk (Resiko).
3.                        Keselamatan di rumah dan masyarakat
1. Mengapa K3 (Safety) itu penting? Beberapa faktor menjadi pertimbangan, seperti berikut:
·   Humanitarianisme:  Nilai tentang hidup manusia dan kesejahteraan.
·   Hukum: Formalisasi standar berperilaku tentang yang benar dan yang salah.
·   Biaya: yang timbul karena cidera, sakit akibat kerja, kematian, kerusakan harta benda, penggantian karyawan, waktu, proses produksi, perjalanan, pencatatan, investigasi, legal, dan pelayanan medis, rumah sakit, rehabilatasi dan penyembuhan, dan public image
SAFETY
Adalah suatu keadaan yang secara relatif bebas dari hal yang membahayakan (harm), bahaya (danger), cedera atau kerusakan
BAHAYA
Suatu kondisi, keadaan atau objek yang berpotensimenyebabkan kerugian, berupa cedera, sakit, atau kersakan harta benda.
RESIKO
Suatu peluang dari suatu kondisi atau keadaan tersebut menyebabkan cedera, sakit atau kerusakan harta benda.
RISK = FREQUENCY x CONSEQUENCE
Keselamatan di rumah dan masyarakat
Mencegah Kebakaran sewaktu memasak
·   Jangan meninggalkan peralatan masak dalam keadaan menyala,
·   Jauhkan benda-benda yang dapat terbakar,
·   selalu waspada, misalnya adanya kebocoran gas dari tabung LPG.
Mencegah Kebakaran karena Merokok
·   Merokok di luar rumah, jauh dari bahan yang mudah terbakar.
·   Gunakan asbak rokok yang sesuai, letakan di tempat yang stabil, seperti meja.
·   Matikan puntung rokok sebelum di buang di tempat sampah.
Untuk kesehatan bersama
DILARANG MEROKOK DI TEMPAT UMUM, DEKAT ANAK-ANAK DAN WANITA HAMIL.
Mencegah Kebakaran karena Lilin
·   Jangan pernah meninggalkan lilin menyala  tanpa pengawasan
·   Jangan biarkan anak-anak bermain-main dengan lilin menyala.
·   Gunakan tempat meletakkan lilin dari bahan yang tahan panas dan api, seperti metal atau kaca.
·   Matikan lilin jika tidak ada orang dewasa yang mengawasi.
Mencegah Kebakaran Disebabkan Bensin atau Produk Lainnya
·   Simpan bensin di tempat penyimpanan yang sesuai untuk bahan mudah terbakar. Pastikan ventilasi ruangan baik. Jangan simpan di dalam rumah.
·   Gunakan bensin hanya untuk bahan bakar motor, tidak untuk yang lainnya.
·   Jangan tinggalkan jerican, botol, atau tempat bahan berbahaya, beracun dan mudah terbakar dalam keadaan terbuka tutupnya. Jauhkan dari anak-anak setelah digunakan. Hindari hubungan peralatan listrik rumah tangga yang terlalu banyak di satu Plug
Keselamatan Menggunakan Tangga
Jatuh dapat menyebabkan kematian. Gunakan tangga untuk memanjat atau mengerjakan sesuatu di tempat yang tinggi, seperti mengecat, menggantungkan dekorasi, dll.
Pelajari cara menggunakan tangga dengan benar dan selamat. Selalu gunakan tangga yang kokoh. Hindari penggunaan kursi untuk memanjat, karena beresiko. Perhatikan permukaan lantai sebagi pijakan tangga.
Ingat aturan  4:1 untuk sewaktu menggunakan tangga. Untuk setiap 4 ukuran tinggi tempat, dari lantai ke bagian kontak paling atas, maka jarak dasar kaki adalah satu bagiannya. Tinggi 4 meter, berarti bagian dasar kaki berjarak 1 meter dari dinding.
Jaga keseimbangan tubuh sewaktu mendaki. Berdiri di injakan yang paling aman untuk berdiri. Biasanya di injakan ke empat dari injakan paling atas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar