Rabu, 23 November 2011

TEKNOLOGI TEPAT GUNA (PENGELOLAAN AIR DAN SANITASI)


TTG - PENGELOLAAN AIR DAN SANITASI
KAKUS/JAMBAN SISTEM CEMPLUNG ATAU GALIAN
  1. PENDAHULUAN
    Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup yang sehat. Dalam pembuatan jamban sedapat mungkin harus diusahakan agar jemban tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, kontruksi yang kokoh dan biaya yang terjangkau perlu dipikirkan dalam membuat jamban.
    • Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jamban adalah sabagai berikut :
      1. Tidak mengakibatkan pencemaran pada sumber-sumber air minum, dan permukaan tanah yang ada disekitar jamban;
      2. Menghindarkan berkembangbiaknya/tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah;
      3. Tidak memungkinkan berkembang biaknya lalat dan serangga lain;
      4. Menghindarkan atau mencegah timbulnya bau dan pemandangan yang tidak menyedapkan;
      5. Mengusahakan kontruksi yang sederhana, kuat dan murah;
      6. Mengusahakan sistem yang dapat digunakan dan diterima masyarakat setempat.
    • Dalam penetuan letak kakus ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu jarak terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada :
      1. Keadaan daerah datar atau lereng;
      2. Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam;
      3. Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur.
    • Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata 10 meter.
    • Dalam penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan :
      1. Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah dari letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa di atasnya, maka jarak tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari letak sumur.
      2. Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang sering digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya lantai jamban (diatas lobang) dibuat lebih tinggidari permukaan air yang tertinggi pada waktu banjir.
      3. Mudah dan tidaknya memperoleh air.
    • Dalam bab ini ada 5 cara pembuatan jamban/kakus yang memenuhi persyaratan tersebut di atas, yaitu :
      1. kakus/jamban sistem cemplung atau galian
      2. Jamban sistem leher angsa
      3. Jamban septik tank ganda
      4. Kakus Vietnam
      5. Kakus sopa sandas
  2. URAIAN SINGKAT
    Kakus atau jamban jemplung sesuai untuk daerah yang tanahnya mudah menyerap air serta sulit dalam pengadaan air bersih. Kontruksinya cukup sederhana. Kakus dibuat dengan cara menggali tanah sebagai lubang penampungan. Lalu diperkuat dengan bahan penguat, biasanya bronjong atau anyaman bambu, serta diatasnya dibuat bangunan penutup yang dapat dipindahkan bila lubang telah penuh. Untuk menghindari bau yang timbul, lubang pembuangan ditutup serta dilengkapi pipa pembuangan gas.
  3. BAHAN
    1. Bambu
    2. Kayu
    3. Bahan atap atau genteng
    4. Bahan dinding/penutup
    5. Paku
  1. PERALATAN
    1. Cangkul/alat penggali tanah
    2. Gergaji
    3. Golok
    4. Palu Alat pertukangan lain
  2. PEMBUATAN
    1. Gali tanah selebar 1-1,5 m, dalam 3 m atau lebih, tergantung kebutuhan.
    2. Paku bronjong (anyaman bambu) tau bahan penguat lainnya pada dinding lobang untuk menahan longsor.
    3. Tutup lubang dengan lantai yang berlubang dan bangunan penutup seperti pada Gambar.
    4. Lubang khusus pembuangan kotoran perlu ditutup dengan penutup yang dapat diangkat.
    5. Untuk menghindari bau yang tidak sedap, lubang septik tank perlu dilengkapi dengan saluran pembuangan gas.
    6. Bangunan jambang perlu diusahakan agar cukup ventilasi udara dan sinar masuk.
    7. Bangunan diusahakan dari bahan yang ringan agar mudah dipindahkan.
    8. Lokasi dianjurkan agak jauh dari tempat kediaman atau perumahan.
      Kontruksi secara lengkap lihat Gambar

      Gambar 1. Kontruksi Kakus
  3. PENGGUNAAN
    Pemakai langsung membuang kotorannya dari atas lubang yang telah disediakan pada banguan penutup dengan tata cara :
    1. Tutup lubang dibuka
    2. Jongkok tepat diatas lubang
    3. Diusahakan kotoran tidak menyentuh dinding lubang Setelah selesai lubang ditutup kembali
  4. PEMELIHARAAN
    1. Untuk mencegah penyebaran penyakit atau bau, lantai perlu dibersihkan secara teratur.
    2. Untuk menjaga agar bangunan tahan lama, bahan-bahan harus diresidu atau dikapur lebih dahulu sebelum dipasang.
  5. KEUNTUNGAN
    1. Kontruksi bangunan cukup sederhana dan mudah dilaksanakan sendiri tanpa memerlukan persyaratan khusus.
    2. Biaya yang diperlukan tidak terlalu tinggi atau cukup terjangkau oleh masyarakat.
    3. Daerah bekas lokasi jamban menjadi subur
    4. Bangunan bisa dipindahkan
  6. KERUGIAN
    1. Lubang tinja bila penuh tidak bisa dimanfaatkan kembali karena kontruksinya tidak tetap.
    2. Sulit untuk memperhitungkan ketahanan kekuatan kontruksi penguat lubang dan bangunan jamban.
    3. Kurang nyaman
    4. Dari segi kesehatan, jamban sistem ini dianggap kurang higinis karena berbau serta memungkinkan timbulnya lalt dan serangga lain.
    5. Kurang aman untuk anak-anak.
  7. DAFTAR PUSTAKA
    1. Wasito, Sidik. Kakus sederhana bagi masyarakat desa. Bandung : Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan
    2. Jamban : cara pembuatannya. Jakarta : Direktorat Perumahan, 1990.
  8. INFORMASI LEBIH LANJUT
    1. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan, Departemen Pekerjaan Umum. Jl. Tamansari 84 Bandung
    2. Direktorat Perumahan, Departemen Pekerjaan Umum. Jl. Wijaya I/68 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
    3. Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan – LIPI; Jl. Cisitu Sangkuriang No. 1 – Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052,
      250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050
Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation, Jakarta, 1991.






Buang air besar (BAB) sembarangan bukan lagi zamannya. Dampak BAB sembarangan sangat buruk bagi kesehatan dan keindahan. Selain jorok, berbagai jenis penyakit ditularkan.
Sebagai gantinya, BAB harus pada tempatnya yakni di jamban. Hanya saja harus diperhatikan pembangunan jamban tersebut agar tetap sehat dan tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.
Kementerian Kesehatan telah menetapkan syarat dalam membuat jamban sehat. Ada tujuh kriteria yang harus diperhatikan. Berikut syarat-syarat tersebut:
  1. Tidak mencemari air
    1. Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran tidak mencapai permukaan air tanah maksimum. Jika keadaan terpaksa, dinding dan dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester.
    2. Jarang lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter
    3. Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor dari lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur.
    4. Tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke dalam selokan, empang, danau, sungai, dan laut
  2. Tidak mencemari tanah permukaan
    1. Tidak buang besar di sembarang tempat, seperti kebun, pekarangan, dekat sungai, dekat mata air, atau pinggir jalan.
    2. Jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras kotorannya, atau dikuras, kemudian kotoran ditimbun di lubang galian.
  1. Bebas dari serangga
    1. Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras setiap minggu. Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk demam berdarah
    2. Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang gelap dapat menjadi sarang nyamuk.
    3. Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang bisa menjadi sarang kecoa atau serangga lainnya
    4. Lantai jamban harus selalu bersih dan kering
    5. Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus tertutup
  1. Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan
    1. Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup setiap selesai digunakan
    2. Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa harus tertutup rapat oleh air
    3. Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa ventilasi untuk membuang bau dari dalam lubang kotoran
    4. Lantan jamban harus kedap air dan permukaan bowl licin. Pembersihan harus dilakukan secara periodic
  1. Aman digunakan oleh pemakainya
    1. Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang kotoran dengan pasangan batau atau selongsong anyaman bambu atau bahan penguat lai yang terdapat di daerah setempat
  1. Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya
    1. Lantai jamban rata dan miring kea rah saluran lubang kotoran
    2. Jangan membuang plastic, puntung rokok, atau benda lain ke saluran kotoran karena dapat menyumbat saluran
    3. Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena jamban akan cepat penuh
    4. Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati. Gunakan pipa berdiameter minimal 4 inci. Letakkan pipa dengan kemiringan minimal 2:100
  1. Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan
    1. Jamban harus berdinding dan berpintu
    2. Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya terhindar dari kehujanan dan kepanasan.
Itulah beberapa prasyarat jamban sehat. Sudahkan jamban Anda seperti itu? (MJ)

Selasa, 22 November 2011

Hubungan Kesehatan dengan Perilaku


PENDAHULUAN

1.1.         Latar Belakang
Perilaku adalah merupakan perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Berdasarkan sifatnya perilaku terbagi menjadi dua, yaitu perilaku perilaku baik dan buruk.
Tolak ukur perilaku yang baik dan buruk ini pun dinilai dari norma-norma yang berlaku dimasyarakat. Baik itu norma agama, hukum, kesopanan, kesusialaan, dan norma-norma lainnya.
Dalam kesehatan hubungan perilaku sangatlah erat sekali. Banyak hal yang tanpa kita sadari dari perilaku yang kecil dapat menimbulkan efek kesehatan yang besar bagi seseorang. Salah satu contohnya berupa pesan kesehatan yang sedang maraknya digerakkan oleh promoter kesehatan tentang cuci tangan sebelum melakukan aktifitas, kita semua tahu jika mencuci tangan adalah hal yang sederhana, tapi dari hal kecil tersebut kita bisa melakukan revolusi kesehatan kearah yang lebih baik. Sungguh besar efek perilaku tersebut bagi kesehatan, begitu pula dengan kesehatan yang baik akan tercermin apabila seseorang tersebut melakukan perilaku yang baik.
Maka dari itu dalam makalah ini, penulis hanya membahas tentang hubungan kesehatan dengan perilaku, factor-faktor penyebab rendahnya perilaku yang baik, dampaknya serta control perilaku kearah yang lebih baik, sesuai dengan judul makalah yaitu hubungan kesehatan dengan perilaku.
1.2.         Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui tentang hubungan kesehatan terhadap perilaku serta hal-hal yang terkait terhadap perilaku dan kesehatan.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Kesehatan
        Definisi Sehat
Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual.
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).Definisi WHO tentang sehat mempunyui karakteristik berikut yang dapat meningkatkan.
konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994):

1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.
3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan. Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, social, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.


2.2. Perilaku
       Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan dan baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi. Seiring dengan tidak disadari bahwa interaksi itu sangat kompleks sehingga kadang- kadang kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan perilaku tertentu. Karena itu amat penting untuk dapat menelaah alasan dibalik perilaku individu, selama ia mampu mengubah perilaku tersebut.

Dilihat dari Segi Biologis:
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme ( makhluk hidup ) yang bersangkutan. Dari sudut pandang biologis, semua makhluk hidup mulai dari tumbuhan, hewan, dan manusia berperilaku, karena mempunyai aktivitas masing – masing. Perilaku manusia adalah semua tindakan atau aktivitas manusia, baik yang diamati lansung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar
Dilihat dari Segi Psikologis
Menurut Skiner (1938 ), perilaku adalah suatu respon atau reaksi seseorang te rhadap stimulus ( rangsangan dari luar . pengertian itu dikenal dengan teori S-O-R (stimulus-organisme-respons).skiner membedakan respons tersebut menjadi 2 jenis, yaitu respondent response (reflexive) dan operant response (instrumental response).
Secara lebih proposional perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseoang terhadap rangsangan (stimulus) dari luar subjek tersebut. Respon ini berbentuk 2 macam, yakni:
Bentuk pasif adalah respon internal yaitu terjadi didalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain. Misalnya berpikir , tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan.
Bentuk aktif yaitu apabila perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung. Perilaku sudah tampak dalam bentuk tindakan nyata makan disebut overt behavior
.
2.3.     Perilaku Sehat
Menurut Becker. Konsep perilaku sehat ini merupakan pengembangan dari konsep perilaku yang dikembangkan Bloom. Becker menguraikan perilaku kesehatan menjadi tiga domain, yakni pengetahuan kesehatan (health knowledge), sikap terhadap kesehatan (health attitude) dan praktek kesehatan (health practice). Hal ini berguna untuk mengukur seberapa besar tingkat perilaku kesehatan individu yang menjadi unit analisis penelitian. Becker mengklasifikasikan perilaku kesehatan menjadi tiga dimensi :
1.      Pengetahuan Kesehatan Pengetahuan tentang kesehatan mencakup apa yang diketahui oleh seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan, seperti pengetahuan tentang penyakit menular, pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait. dan atau mempengaruhi kesehatan, pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengetahuan untuk menghindari kecelakaan.
2.      Sikap terhadap kesehatan Sikap terhadap kesehatan adalah pendapat atau penilaian seseorang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan, seperti sikap terhadap penyakit menular dan tidak menular, sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi kesehatan, sikap tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan sikap untuk menghindari kecelakaan.
3.      Praktek kesehatan Praktek kesehatan untuk hidup sehat adalah semua kegiatan atau aktivitas orang dalam rangka memelihara kesehatan, seperti tindakan terhadap penyakit menular dan tidak menular, tindakan terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi kesehatan, tindakan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan tindakan untuk menghindari kecelakaan.
Selain Becker, terdapat pula beberapa definisi lain mengenai perilaku kesehatan. Menurut Solita, perilaku kesehatan merupakan segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan. Sedangkan Cals dan Cobb mengemukakan perilaku kesehatan sebagai: “perilaku untuk mencegah penyakit pada tahap belum menunjukkan gejala (asymptomatic stage)”.

Menurut Skinner perilaku kesehatan (healthy behavior) diartikan sebagai respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan seperti lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat diamati (unobservable), yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini mencakup mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan, dan mencari penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah kesehatan
Perilaku sehat adalah sifat pribadi seperti kepercayaan, motif, nilai, persepsi dan elemen kognitif lainnya yang mendasari tindakan yang dilakukan individu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya, termasuk pencegahan penyakit, perawatan kebersihan diri, penjagaan kebugaran melalui olah raga dan makanan bergiz. Perilaku sehat diperlihatkan oleh individu yang merasa dirinya sehat meskipun secara medis belum tentu mereka betul-betul sehat.
PERUBAHAN PERILAKU SEHAT
Telah menjadi pemahaman umum, perilaku merupakan diterminan kesehatan yang menjadi sasaran dari promosi untuk mengubah perilaku ( behaviour change ). Perubahan perilaku kesehatan sebagai tujuan dari promosi atau pendidkan kesehatan, sekurang- kurangnya mempunyai 3 dimensi, yakni :
• Mengubah perilaku negative (tidak sehat) menjadi perilaku positif (sesuai dengan nilai – nilai kesehatan)
• Mengembangkan perilaku positif ( pembentukan atau pengambangan perilau sehat ).
• Memelihara perilaku yang sudah positif atau perilaku yang sudah sesuai dengan norma/nilai kesehatan ( perilaku sehat ). Dengan perkatan mempertahankan perilaku sehat yang sudah ada.
Perilaku seseorang dapat berubah jika terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan di dalam diri seseorang.

Beberapa rangsangan dapat menyebabkan orang merubah perilaku mereka :

FAKTOR SOSIAL : Factor sosial sebagai factor eksternal yang mempengaruhi perilaku antara lain sktruktur sosial, pranata –pranata sosial dan permasalahan – permasalahan sosial yang lain. Pada factor sosial ini bila seseorang berada pada lingkungan yang baik yang maka orang tersebut akan memiliki perilaku sehat yang baik sedangkan sebaliknya bila seseorang berada pada lingkungan yang kurang baik maka orang tersebut akan memiliki perilaku sehat yang kurang baik juga. Dukungan sosial ( keluarga, teman ) mendorong perubaha perubahan sehat. Contohnya konsumsi alcohol, kebiasaan merokok, dan perilaku seksual.
FAKTOR KEPRIBADIAN : Faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku salah satunya adalah perilaku itu sendiri (kepribadian) yang dimana dipengaruhi oleh karakteristik individu, penilaian individu terhadap perubahan yang di tawarkan, interaksi dengan petugas kesehatan yang merekomen-dasikan perubahan perilaku, dan pengalaman mencoba merubah perilaku yang serupa. Contohnya yang berhubungan adalah rasa kehatian – hatian, membatasi porsi pemakaian internet pada waktu – waktu tertentu agar tidak menjadi addicted, ini akan membantu individu agar dengan tidak menjadikan hal tersebut suatu kebiasaan ( habit) yang dapat merubah perilaku.
FAKTOR EMOSI : Rangsangan yang bersumber dari rasa takut, cinta, atau harapan – harapan yang dimiliki yang bersangkutan. Contohnya berhubungan dengan stress yang mendorong melakukan perilaku tidak sehat seperti merokok.





PROSES TERJADINYA
Untuk proses perubahan perilaku biasanya diperlukan waktu lama, jarang ada orang yang langsung merubah perilakunya. Kadang- kadang orang merubah perilakunya karena tekanan dari masyarakat lingkunganya, atau karena yang bersangkutan ingin menyesuaikan diri dengan norma yang ada. Proses terjadinya perubahan ini tidak semena – mena dapat tercapai dan harus benar- benar teruji, ada 5 tingkatan perubahan perilaku :

1. Prekontemplasi : – Belum ada niat perubahan perilaku

2. Kontemplasi : – Individu sadar adanya masalahnya dan secara serius ingin
mengubah perilakunya menjadi lebih sehat.
- Belum siap berkomitmen untuk berubah.

3. Persiapan : - Individu siap berubah dan ingin mengejar tujuan.
- Sudah pernah melakukan tapi masih gagal.

4. Tindakan : – Individu sudah melakukan perilaku sehat, sekurangnya 6 bulan dari sejak mulai usaha memberlakukan perilaku hidup sehat.

5. Pemeliharaan : – Individu berusaha mempertahankan perilaku sehat yang telah dilakukan ( 6 bulan dilhat kembali).
- Mungkin berlangsung lama.
- 6 bulan dilihat kembali.

2.4. Hubungan Kesehatan dengan Perilaku
Seperti yang telah di jelaskan di Bab 1 , hubungan kesehatan dengan perilaku sangatlah erat san saling berkesinambungan, individu yang sehat akan tercermin dari perilaku yang sehat pula. Sebaliknya juga begitu perilaku yang sehat akan mencerminkan individu dengan kualitas hidup baik.
Manfaat dari hidup sehat yang paling penting adalah meningkatkan produktivitas kita dengan segala kemampuan dan potensi diri kita. Untuk itu konsep hidup sehat seperti tingkatkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) harus dipupuk dari tiap individu untuk dapat meningkatkan kualitas hidup yang sehat.

2.5. Pencegahan , Tujuan dan Dampak Hidup Sehat
PENCEGAHAN
Perilaku pencegahan penyakit ( health prevention ) adalah respon untuk melakukan pencegahan penyakit dan upaya mepertahankan dan meningkatkan kesehatannya / segala tindakan secara medis direkomendasikan, dialkukan secara sukarela oleh seseorang yang percaya dirinya sehat dan bermaksud untuk mencegah penyakit atau ketidakmampuan atau untuk mendeteksi penyakit yang tidak tampak nyata ( asimptomatik ). Pada proses pencegahan dapat dilakukan dalam dua bentuk medis dan non medis.
Ø Contoh pencegahan secara Medis : imunisasi, makan makanan bergizi yang mengandung kebutuhan tubuh.
Ø Contoh pencegahan Non-Medis : olahraga teratur, tidak merokok, tidak minum minuman keras dan alcohol, istirahat yang cukup. Selain itu perilaku dan gaya hidup yang positif bagi kesehatan ( misalnya, tidak gonta ganti pasangan, adaptasi dengan lingkungan )
TUJUAN
Tujuan dari perilaku sehat dan perubahan perilaku sehat adalah agar terjadinya suatu pola hidup sehat yang menunjukan kepada kebiasaan.
AKIBAT
Akibat Perilaku Sehat:
a.       Reinforcement (Peningkatan)
Reinforcemen merupakan sesuatu yang dilakukan yang dapat membawa kesenangan dan kepuasan.
Contohnya:
- Positive reinforcement : anak kecil yang mau cuci tangan sebelum makan bila di berikan mainan.
- Negative reinforcement : anda minum milanta agar sakit maag hilang.

b. Extincion (peniadaan).
Extincion merupakan perilaku sehat yang apabila konsekuensinya di hilangkan maka akan melemah responnya jika tidak ada stimuli/reinforcer lain yang mempertahankan perilaku sehat.Contohnya: anak kecil yang mau cuci tangan sebelum makan bila di berikan mainan tetap melakukan perilaku sehatnya karena pujian orang tua atau kepuasan karena tangannya bersih dari kuman
b.      Punishment (hukuman)
Punishment merupakan perilaku yang apabila dilakukan dan membawa konsekuensi yang tidak menyenangkan cenderung ditekan.Contohnya: anak kecil yang bermain dengan benda tajam seperti pisau dimarahi oleh Ibunya, akan tidak mengulanginya lagi.

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan dan baik disadari maupun tidak.

Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).

Menurut Becker. Konsep perilaku sehat ini merupakan pengembangan dari konsep perilaku yang dikembangkan Bloom. Becker menguraikan perilaku kesehatan menjadi tiga domain, yakni pengetahuan kesehatan (health knowledge), sikap terhadap kesehatan (health attitude) dan praktek kesehatan (health practice).
Hubungan kesehatan dengan perilaku sangatlah erat san saling berkesinambungan, individu yang sehat akan tercermin dari perilaku yang sehat pula. Sebaliknya juga begitu perilaku yang sehat akan mencerminkan individu dengan kualitas hidup baik.
3.2. Saran
Hubungan kesehatan dengan perilaku sangatlah erat san saling berkesinambungan, individu yang sehat akan tercermin dari perilaku yang sehat pula. Sebaliknya juga begitu perilaku yang sehat akan mencerminkan individu dengan kualitas hidup baik.
Manfaat dari hidup sehat yang paling penting adalah meningkatkan produktivitas kita dengan segala kemampuan dan potensi diri kita. Untuk itu konsep hidup sehat seperti tingkatkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) harus dipupuk dari tiap individu untuk dapat meningkatkan kualitas hidup yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com

Senin, 21 November 2011

SUBSISTEM UPAYA KESEHATAN DALAM SISTEM KESEHATAN NASIONAL


A.    PENGERTIAN 
Upaya kesehatan = tatanan yg  menghimpun berbagai upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perorangan (UKP) secara terpadu & saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kes masy yg setinggi-tingginya.
B.     TUJUAN 
Terselenggaranya upaya kesehatan yang tercapai (accessible), terjangkau (affordable), dan bermutu (quality) untuk menjamin terselenggaranya pembinaan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yg setinggi-tingginya.
C.    UNSUR-UNSUR UTAMA 
1.       UKM (Upaya Kesehatan  Masyarakat)
2.       UKP (Upaya Kesehatan Perorangan)
D.    DEFINISI UKM 
 setiap kegiatan  pemerintah, masyarakat, dan swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat.
Contoh UKM 
Ø  Promosi kesehatan
Ø  Pemeliharaan kesehatan
Ø  Pemberantasan penyakit menular
Ø  Kesehatan jiwa
Ø  Pengendalian penyakit tidak menular
Ø  Penyehatan lingkungan
Ø  Penyediaan sanitasi dasar
Ø  Perbaikan gizi masyarakat
Ø  Pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan
Ø  Pengamanan penggunaan zat aditif (bahan tambahan makanan) dalam makanan dan minuman,
Ø  Pengamanan narkotika, psikotropika, zat aditif dan bahan berbahaya
Ø  Penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan

E.     DEFINISI UKP 
Unik Kegiatan perorangan adalah setiap kegiatan  oleh pemerintah masyarakat dan swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit sertamemulihkan kes perorangan.
Contoh UKP 
Ø  Upaya promosi kesehatan
Ø  Pencegahan penyakit
Ø  Pengobatan rawat jalan
Ø  Pengobatan rawat inap
Ø  Pembatasan dan pemulihan kecacatan terhadap perorangan
Ø  Termasuk pengobatan tradisional dan alternatif
Ø  Termasuk pelayanan kebugaran fisik dan kosmetika
F.     PRINSIP 
1.       UKM terutama diselenggarakan oleh pemerintah dg peran aktif masyarakat dan swasta
2.       UKP diselenggarakan oleh masyarakat, swasta, dan pemerintah.
3.       Penyelenggaraan upaya kesehatan oleh swasta harus memperhatikan fungsi sosial.
4.       Penyelenggarakan upaya kesehatan harus bersifat menyeluruh, terpadu, berkelanjutan,  terjangkau, berjenjang, profesional, & bermutu.
5.       Penyelenggaraan upaya kes, termasuk pengobatan tradisional & alternatif, harus tidak bertentangan dg kaidah ilmiah.
6.       Penyelenggaraan upaya kesehatan harus sesuai dengan nilai & normal sosial budaya, moral, & etika profesi. 
G.    BENTUK POKOK 
UKM (UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT)
1.      UKM Strata Pertama 
a.       UKM tingkat dasar,  yaitu yang mendayagunakan iptek kes dasar  ditujukan ke masy.
b.       Ujung tombak à puskesmas
c.        Sekurangnya 1 puskesmas per kecamatan
d.       Tiga fungsi puskesmas:
o    Pusat penggerak pemb berwawasan kes.
o    Pusat pemberdayaan masyarakat di bidang kes.
o    Pusat pelayanan kesehatan tingkat dasar.
Peran Serta Masy  dalam UKM Strata Pertama 
ü  Diri sendiri
ü  Keluarga
ü  Upaya kesehatan bersama (UKBM)
ü  Contoh UKBM:
o    Posyandu
o    Polindes
o    Pos Obat Desa
o    Pos upaya Kesehatan Kerja
o    Dokter Kecil dalam Usaha Kes Sekolah
2.      UKM Strata Kedua 
a.       Adalah UKM tingkat lanjutan, yaitu yang mendayagunakan iptek kesehatan spesialistik yang ditujukan kepada masyarakat.
b.       Penanggung jawab UKM strata kedua = Dinkes Kab/Kota (didukung lintas sektor)
c.        2 fungsi utama Dinkes = fungsi manajerial dan fungsi teknis kesehatan.
Fungsi Dinkes  Kab/Kota 
ü  Fungsi Manajerial  = perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, serta pengawasan dan pertanggungjawaban pemb kes di kab/kota.
ü  Fungsi Teknis kesehatan = penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat tk lanjut (kebutuhan rujukan pkm)
Rujukan Kesehatan Masyarakat = pelimpahan wewenang dan TJ atas masalah kehehatan masyarakat yg dilakukan timbal balik, vertikal dan horizontal.
3 aspek rujukan: rujukan sarana, rujukan teknologi, dan rujukan operasional.
Dinkes Kab/Kota  dilengkapi Unit/Subdin:
ü  P2P
ü  Promkes
ü  Pelayanan kefarmasian
ü  Kesehatan lingkungan
ü  Perbaikan gizi
ü  KIA/KB
3.      UKM Strata Ketiga 
a.       UKM tingkat unggulan, yaitu yg mendayagunakan iptek kesehatan subspesialistik yang ditujukan kepada masyarakat.
b.       Penanggung jawab = Dinkes Provinsi dan Depkes didukung lintas sektor.
c.        2 fungsi Dinkes Prov dan Depkes= fungsi manajerial dan fungsi teknis kes.
Fungsi Dinkes  Prov/Depkes 
ü  Fungsi Manajerial = perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, pengawasan, pertanggungjawaban penyelenggaraan pemb  di prov/nas.
ü  Fungsi Teknis kes = penyediaan pelayanan kes masy tingkat unggulan dlm rangka melayani kebutuhan dari kab/kota dan prov.
Dinkes Prov/Depkes didukung  oleh:
·         Institut Gizi Nasional
·         Institut Penyakit Infeksi Nas
·         Institut Kes Jiwa Nas
·         Institut Ketergantungan Obat Nas
·         Institut Promosi Kes Nas
·         Institut Kesehatan Kerja Nas
·         Pusat Laboratorium Nas
·         Institute Survailans, Teknologi Penyakit & Kesling
UKP (UPAYA KESEHATAN PERORANGAN)
1.      UKP Strata Pertama 
a.  UKP tingkat dasar, yaitu yang mendayagunakan iptek kes yang ditujukan kepada perorangan.
b.       Penyelenggara = pemerintah, masy, dan swasta;
c.        UKP melalui pelayanan  professional = 
    • praktik bidan,
    • praktik perawat,
    • praktik dr,
    • praktik drg,
    • poliklinik,
    • BP,
    • praktik klinik 24 jam,
    • praktik bersama,
    • RB.
d.       UKP Strata Pertama  oleh  Pemerintah à Puskesmas (pelayanan kesehatan masyarakat dan pelayan kesehatan perorangan)
e.        Kelengkapan puskesmas à Pustu, Pusling, Polindes, Pos Obat Desa.
f.        Polindes dan Pos Obat Desa à termasuk bersumber masyarakat.
Dokter Keluarga 
ü  Untuk masa mendatang
ü  SJSN telah berkembang
ü  UKP strata pertama à tidak puskesmas lagi à diserahkan ke dokter keluarga
ü  Kecuali daerah terpencil, masih dipadukan dengan puskesmas.
2.      UKP Strata Kedua 
a.        UKP tingkat lanjutan, yaitu yang mendayagunakan iptek kes spesialistik yang ditujukan ke perorangan.
b.       Penyelenggara: pemerintah, masyarakat, & swasta
c.        UKP Strata 2 ini didukung oleh pelayanan penunjang: apotek, lab klinik, dan optik.
Bentuk UKP Strata  2 
ü  Praktik dokter spesialis
ü  Praktik dokter gigi spesialis
ü  Klinik spesialis
ü  Balai Pengobatan Peny Paru-paru (BP4)
ü  Balai Kesehatan Mata Masy (BKMM)
ü  Rumah Sakit Kelas C dan B non pendidikan milik pemerintah (termasuk TNI/Polri dan BUMN),
ü  Rumah sakit swasta
Pelayanan Rujukan  Medik 
ü  pelimpahan wewenang dan TJ atas kasus peny yang dilakukan secara timbal balik, vertikal dan horizontal. 
ü  Terdiri dari 3 aspek à rujukan kasus, rujukan ilmu pengetahuan, dan rujukan bahan-bahan pemeriksaan lab.
3.      UKP Strata Ketiga 
a.       UKP tingkat unggulan, yaitu yang mendayagunakan iptek kes subspesialistik yang ditujukan kepada perorangan.
b.       Penyelenggara = pemerintah, masy, dan swasta
Bentuk UKP Strata  III 
ü  Praktik dokter spesialis  konsultan
ü  Praktik dokter gigi spesialis konsultan
ü  Klinik spesialis konsultan
ü  Rumah sakit kelas B pendidikan dan kelas A milik pemerintah (termasuk TNI/Polri dan BUMN)
ü  Rumah sakit khusus dan rumah sakit swasta